Bank Emas Nasional Himpun 153 Ton Emas sejak Diluncurkan

Emas batangan. Foto: dok Global Bullion Suppliers.

Bank Emas Nasional Himpun 153 Ton Emas sejak Diluncurkan

Husen Miftahudin • 14 July 2026 15:39

Jakarta: Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan Usaha BUMN Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Ferry Irawan mengungkapkan ekosistem bullion atau bank emas nasional telah menghimpun sekitar 153 ton emas sejak diluncurkan pada Februari 2025. Akumulasi tersebut berasal dari pengelolaan emas di PT Pegadaian dan PT Bank Syariah Indonesia (BSI).

"Sejak 20 Februari 2025 kami sudah mengakumulasi total emas, baik di Pegadaian maupun Bank Syariah Indonesia, sekitar 153 ton. Ini satu hal yang juga terus akan kami kembangkan," kata Ferry dalam Risk and Governance Summit 2026 di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 14 Juli 2026.

Ferry menjelaskan pengembangan ekosistem bullion menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memperdalam pasar keuangan domestik sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Untuk mendukung tujuan tersebut, pemerintah terus melakukan reformasi sektor keuangan melalui penguatan tata kelola pasar keuangan, peningkatan transparansi, serta pendalaman pasar keuangan dalam negeri guna menjaga kepercayaan investor.

Selain memperkuat pasar keuangan, pemerintah bersama Bank Indonesia juga terus memperluas implementasi Local Currency Transaction (LCT) dengan negara-negara mitra dagang. Kebijakan tersebut ditujukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing dalam transaksi perdagangan internasional.

Ferry mengatakan sejak diluncurkan pada 2018, skema LCT telah diterapkan bersama enam negara mitra, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, dan Uni Emirat Arab.
 



(Ilustrasi. Foto: Freepik)
 

Dukung sektor produktif lewat KUR


Di sektor pembiayaan, pemerintah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) senilai Rp340 triliun untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat sektor-sektor produktif.

Selain itu, pemerintah terus menyempurnakan kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam guna meningkatkan transparansi, mencegah praktik under invoicing dan transfer pricing, serta mengoptimalkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia.

Ferry menambahkan berbagai lembaga internasional masih mempertahankan prospek positif terhadap perekonomian Indonesia.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh lima persen pada 2026. Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2 persen.

(Husen Miftahudin)