Lika-liku Pemulangan Aktivis dari Kapal Kemanusiaan Global Sumud Flotilla

Aktivis Global Sumud Flotilla yang dipindahkan ke Turki. Foto: Anadolu

Lika-liku Pemulangan Aktivis dari Kapal Kemanusiaan Global Sumud Flotilla

Fajar Nugraha • 22 May 2026 08:36

Yerusalem: Pada Kamis, 21 Mei, Pemerintah Israel mengumumkan telah mendeportasi seluruh aktivis asing yang ditangkap oleh militernya dari kapal kemanusiaan Gaza, Global Sumud Flotilla.

Langkah ini diambil menyusul kecaman keras dari komunitas internasional terkait perlakuan buruk yang diterima para aktivis selama berada di dalam tahanan Israel.

Sebelumnya, lebih dari 430 aktivis dari berbagai negara ditahan setelah kapal mereka dicegat di laut pada hari Senin saat mencoba menembus blokade di wilayah Palestina tersebut.

Ketegangan diplomatik semakin memuncak pada hari Rabu setelah Menteri Keamanan Nasional Israel yang berhaluan kanan ekstrem, Itamar Ben Gvir, mengunggah video yang memperlihatkan para tahanan dalam kondisi tangan terikat dan dahi menempel di tanah.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel, Oren Marmorstein, menegaskan bahwa seluruh aktivis asing dari armada tersebut telah diusir dari wilayah Israel. Ia menyatakan bahwa Israel tidak akan mengizinkan pelanggaran apa pun terhadap blokade laut yang sah di Gaza.

Seperti dilansir Anadolu, Jumat 22 Mei 2026, lembaga bantuan hukum yang mewakili para aktivis mengonfirmasi bahwa mayoritas anggota delegasi sedang dalam proses pemulangan melalui Bandara Ramon di wilayah selatan Israel, setelah sebelumnya ditahan di Penjara Ktziot di Gurun Negev.

Merespons situasi tersebut, Pemerintah Turki mengirimkan sejumlah pesawat sewaan khusus ke Bandara Ramon untuk menjemput warga negaranya serta peserta dari negara ketiga. Sumber diplomatik menyebutkan tiga penerbangan dengan kapasitas lebih dari 400 penumpang telah disiapkan.

Di sisi lain, para aktivis yang berasal dari Mesir dilaporkan telah dipindahkan melalui perbatasan Taba, sementara delegasi dari Yordania dikembalikan melalui wilayah Aqaba. Pemberlakuan deportasi ini membuntuti kontroversi video unggahan Ben Gvir yang memicu gelombang protes dari berbagai pemerintahan dunia, mulai dari Italia, Spanyol, Australia, hingga Kanada.

Aksi provokatif Ben Gvir yang mengejek para tahanan sembari mengibarkan bendera Israel tersebut bahkan menuai kritik domestik dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, Menteri Luar Negeri Gideon Saar, serta Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee. Sebagai bentuk protes diplomatik, Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani mendesak Uni Eropa untuk menjatuhkan sanksi kepada Ben Gvir atas tindakan yang tidak dapat diterima tersebut.

Pemerintah Inggris juga dilaporkan langsung memanggil diplomat senior Israel di London terkait video provokatif itu. Sementara itu, pakar hak asasi manusia PBB Francesca Albanese mendesak Italia untuk berhenti menentang penangguhan Perjanjian Asosiasi Uni Eropa-Israel, seraya menyebut bahwa kekejaman yang dialami para aktivis belum sebanding dengan apa yang dirasakan warga Palestina di penjara Israel.

Direktur Hukum Adalah, Suhad Bishara, mengatakan bahwa tim pengacara berhasil memberikan pendampingan hukum kepada sebagian besar aktivis, meski beberapa di antaranya terpaksa menjalani persidangan tanpa pengacara. Bishara mengungkapkan sedikitnya dua peserta harus dilarikan ke rumah sakit akibat terkena tembakan peluru karet, sementara beberapa lainnya dilaporkan mengalami cedera patah tulang rusuk.

Seorang jurnalis Italia yang ikut ditangkap dan dideportasi lebih awal, Alessandro Mantovani, memberikan kesaksian setibanya di Bandara Fiumicino Roma bahwa ia dibawa ke bandara dalam kondisi tangan dan kaki dirantai. Ia mengeklaim bahwa pasukan keamanan Israel melakukan tindakan kekerasan fisik berupa pemukulan dan penendangan saat mereka ditangkap.

Sebagai informasi, Israel memegang kendali penuh atas seluruh akses masuk ke Jalur Gaza dan telah menerapkan blokade ketat sejak tahun 2007.

Sejak pecahnya perang Gaza yang dipicu oleh serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, wilayah tersebut mengalami krisis pasokan makanan dan obat-obatan yang parah akibat pembatasan ketat pengiriman bantuan oleh Israel.  Adapun upaya pengiriman bantuan melalui armada laut sebelumnya juga sempat dicegat oleh militer Israel di perairan internasional dekat Yunani bulan lalu, yang berakhir dengan pengusiran para aktivis kembali ke Eropa.

(Kelvin Yurcel)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)