Poster pameran tunggal Chris Suharso bertajuk Perlawanan melalui Tatapan: Impresi dan Citra Pascakolonial yang digelar di Art:1 New Museum, Jakarta, 17 Januari hingga 1 Februari 2026, dikuratori oleh Dr. Mikke Susanto. (Foto: Dok. Ist)
Art:1 New Museum Hadirkan Pameran Tunggal Chris Suharso Bertema Pascakolonial
Patrick Pinaria • 4 February 2026 16:49
Jakarta: Art:1 New Museum telah hadir bagi para pencinta seni rupa dalam dua pekan terakhir. Pameran ini hadir untuk kembali menegaskan perannya sebagai institusi seni yang mendukung praktik seni rupa di Indonesia melalui penyelenggaraan pameran tunggal perupa almarhum Chris Suharso.
Pameran bertajuk Perlawanan melalui Tatapan: Impresi dan Citra Pascakolonial ini juga dibuka untuk publik dan digelar pada 17 Januari hingga 18 Februari 2026, di ruang pamer M2 Art:1 New Museum, Jakarta.
Dikuratori oleh Mikke Susanto, pameran ini menampilkan 48 karya lukisan yang merefleksikan cara khas Chris Suharso dalam mengolah lanskap Nusantara. Lanskap dalam karya-karyanya tidak hadir sebagai dokumentasi geografis, melainkan sebagai ruang batin yang sarat tafsir spiritual.
Horizon yang tenang, pohon-pohon sunyi, serta atmosfer meditatif menjadi elemen penting yang mengajak pengunjung memasuki dunia kontemplatif, jauh dari klise folkloristik lanskap Indonesia ala pelukis Eropa.
Melalui pendekatan tersebut, Chris Suharso menghadirkan apa yang disebut sebagai soft resistance terhadap estetika modernitas Barat, khususnya Impresionisme. Ia menekankan cahaya yang intim, ritme keheningan, dan sensitivitas lokal yang subtil.
Cara pandang ini dipahami sebagai upaya decolonizing the gaze, yakni memandang realitas dari pengalaman Nusantara, bukan semata-mata mengikuti norma representasi yang diimpor dari Eropa. Perspektif ini juga dibaca sebagai perlawanan kultural yang halus, terbentuk dari pengalaman panjang sang pelukis yang lama menetap di Bali.
Selain menampilkan lukisan, pameran ini turut dilengkapi dengan presentasi arsip berupa katalog, buku, kliping, foto, dan publikasi langka. Arsip-arsip tersebut disusun untuk menelusuri perjalanan historis Chris Suharso sekaligus memperlihatkan keterkaitan antara karya, dokumen, dan konteks sosial pada masanya.
Upaya ini diharapkan dapat membuka pembacaan baru atas posisi Chris Suharso dalam sejarah seni lukis Indonesia. Pameran ini juga menjadi bagian dari agenda menuju Peringatan 100 Tahun Chris Suharso yang direncanakan berlangsung pada 2031.
Chris Suharso, yang memiliki nama lahir Siauw Swie Ching, lahir di Solo pada 1931. Ia belajar seni rupa dari pamannya, Siauw Tik Kwie, dan pada 1964 dipercaya menjadi asisten Lee Man Fong dalam proyek Margasatwa dan Puspita Indonesia di Hotel Indonesia yang dipesan oleh Soekarno.
.jpeg)
Poster pameran tunggal Chris Suharso bertajuk Perlawanan melalui Tatapan: Impresi dan Citra Pascakolonial yang digelar di Art:1 New Museum, Jakarta, 17 Januari hingga 1 Februari 2026, dikuratori oleh Dr. Mikke Susanto. (Foto: Dok. Ist)
Sejumlah karyanya seperti Perahu Nelayan dan Kitanan, menjadi koleksi Presiden Soekarno dan terdokumentasi dalam buku Paintings and Statues from the Collection of President Sukarno of the Republic of Indonesia volume III dan IV. Sementara itu, karya cat airnya Study of a High Priestess tercatat sebagai koleksi Neka Art Museum di Ubud, Bali.
Sepanjang hidupnya, Chris Suharso aktif berpameran dengan menggelar sedikitnya 10 pameran tunggal di berbagai ruang seni, antara lain Balai Budaja, Taman Ismail Marzuki, Oet’s Gallery, dan Galeri Mon Decor. Ia juga terlibat dalam berbagai pameran bersama di Jakarta, Bali, hingga Tokyo.
Pada 2014, Art:1 New Museum menerbitkan buku The Tranquil World of Chris Suharso yang ditulis oleh Dipika Puri dan Annisa Rahadi sebagai salah satu rujukan penting mengenai kiprah dan dunia estetik sang perupa.
Pameran tunggal Perlawanan melalui Tatapan: Impresi dan Citra Pascakolonial digelar pada Sabtu, 17 Januari 2026, pukul 14.00 WIB, dan terbuka untuk umum hingga 1 Februari 2026 di Art:1 New Museum, Jakarta.