Daya Beli Lesu, Omzet Pedagang Pernak-pernik 17-an di Asemka Turun Drastis

Produk pernak-pernik bernuansa merah putih yang dijajakan para pedagang Pasar Asemka, Jakarta Barat. Foto: Metrotvnews.com/Nattasya Amani Vrazeti.

Daya Beli Lesu, Omzet Pedagang Pernak-pernik 17-an di Asemka Turun Drastis

Nattasya Amani Vrazeti • 6 August 2026 12:29

Jakarta: Mengais rezeki bagi pedagang pernak pernik perayaan 17 Agustus menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI tak selalu manis. Lesunya daya beli masyarakat disinyalir menjadi pemicu utama merosotnya pendapatan para penjual pernak-pernik merah putih.

Salah satu pedagang, Ade (21), mengungkapkan betapa lesunya penjualan pada perayaan tahun ini. Bahkan, hingga siang hari ini, lapaknya belum mencatatkan transaksi sama sekali.

"Seharian ini belum (terjual) nih, setengah hari belum ada yang beli," ujar Ade kepada Metrotvnews.com di Pasar Asemka, Jakarta Barat, Kamis, 6 Agustus 2026.
 

 

Omzet harian turun lebih dari separuh


Ade menyebut kondisi ini berbanding terbalik dengan periode yang sama pada tahun lalu. Menurut dia, tingkat keramaian pengunjung dan hasil penjualan tahun ini mengalami penurunan yang cukup drastis. "Tahun kemarin beda sama tahun sekarang, ramai tahun kemarin," aku Ade.

Ia menambahkan, penurunan jumlah pembeli berdampak langsung terhadap omzet harian yang diperolehnya. Jika pada tahun lalu ia mampu meraih pendapatan sekitar Rp500 ribu per hari, kini omzetnya rata-rata hanya mencapai Rp200 ribu per hari.

"Ya ada Rp200 ribu (tahun ini). Nyampe Rp500 ribu (tahun lalu)," ujar dia.

Ade mengatakan harga pernak-pernik yang dijual relatif terjangkau. Berbagai aksesori seperti bando dan hiasan berbentuk ketupat dipasarkan mulai Rp5.000 hingga Rp10 ribu per buah.

Sementara itu, bendera berbahan kain dijual dengan harga sekitar Rp20 ribu hingga Rp30 ribu, bergantung pada ukuran dan jenisnya.


(Penjual pernak-pernik bernuansa merah putih di kawasan Pasar Asemka, Jakarta Barat. Foto: Metrotvnews.com/Nattasya Amani Vrazeti)
 

Penjualan turun tajam


Kondisi serupa juga dirasakan Adi (27), pedagang musiman yang berjualan di kawasan Pasar Asemka, yang ditemui di sudut lain lorong pasar.

Ia mengaku jumlah penjualannya sulit diprediksi. Kendati tidak mengetahui pasti penyebabnya, ia merasakan adanya penurunan pendapatan yang cukup signifikan dibandingkan perayaan 17-an tahun lalu.

"Kita ni musiman, jadi gak nentu. Tapi kalau dibandingin 17-an tahun lalu tahun ini lebih menurun. Tapi karena apanya saya juga gak tau. Tapi lebih menurun aja dibanding tahun lalu," tutur dia.

(Husen Miftahudin)