PM Jepang Sanae Takaichi. (Anadolu Agency)
PM Jepang Desak Iran Buka Selat Hormuz untuk Pelayaran Tanpa Biaya Tambahan
Willy Haryono • 12 August 2026 22:02
Tokyo: Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk memastikan pelayaran yang bebas dan aman di Selat Hormuz tanpa biaya tambahan, yang disampaikan dalam percakapan telepon pada Rabu, 12 Agustus 2026.
Dikutip dari Anadolu Agency, ia juga meminta Iran berupaya mendorong kelompok Houthi di Yaman untuk menahan diri dan tidak meningkatkan ketegangan di kawasan.
Menurut pernyataan Takaichi yang diunggah melalui akun X miliknya, Jepang menilai ketegangan militer saat ini perlu segera diredakan dan situasi di kawasan harus ditenangkan.
Takaichi juga menyoroti pembicaraan Iran dengan sejumlah negara mengenai upaya membuka kembali Selat Hormuz.
Ia menegaskan posisi Jepang bahwa Amerika Serikat dan Iran perlu kembali berunding berdasarkan Memorandum Islamabad dan segera mencapai kesepakatan final, termasuk mengenai isu nuklir Iran.
Takaichi menyampaikan harapan kuat agar situasi dapat diredakan melalui diplomasi dalam waktu dekat.
Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb
Dalam pembicaraan tersebut, Takaichi menekankan bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka bagi pelayaran yang "bebas dan aman tanpa biaya tambahan".Ia juga menyerukan pembahasan dengan komunitas internasional, termasuk negara-negara yang menggunakan jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting bagi perdagangan dan pasokan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi memengaruhi pengiriman minyak dan komoditas energi ke berbagai negara.
Selain Hormuz, Takaichi menyampaikan keprihatinan terhadap situasi di Selat Bab al-Mandeb. Ia meminta adanya upaya untuk membujuk Houthi agar menahan diri.
Selat Bab al-Mandeb berada di antara Semenanjung Arab dan Afrika dan menjadi jalur masuk menuju Laut Merah. Jalur tersebut juga memiliki peran penting bagi perdagangan internasional.
Takaichi turut meminta agar kasus seorang warga negara Jepang yang dibebaskan dengan jaminan di Iran pada April segera diselesaikan.
Sementara itu, Pezeshkian menjelaskan perkembangan terbaru serta prospek dialog dengan Oman mengenai Selat Hormuz. Terkait Bab al-Mandeb, Pezeshkian mengatakan upaya penyelesaian melalui dialog sedang dilakukan, termasuk dengan Arab Saudi.
Perundingan AS-Iran
Amerika Serikat dan Iran menandatangani memorandum pada 17 Juni dan kemudian memulai perundingan menuju kesepakatan final.Namun, perundingan tersebut kemudian mengalami kebuntuan akibat perbedaan pandangan mengenai jaminan keamanan serta kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Pada 8 hingga 24 Juli, Amerika Serikat dan Iran juga saling melancarkan serangan militer. Washington menyerang sejumlah target di Iran, sementara Teheran merespons dengan menyerang apa yang disebutnya sebagai fasilitas dan peralatan militer AS di sejumlah negara Arab, termasuk Yordania, Bahrain, dan Kuwait.
Dalam situasi tersebut, Jepang mendorong penyelesaian melalui diplomasi sekaligus menekankan pentingnya menjaga jalur pelayaran strategis tetap terbuka dan aman.
Baca juga: Iran Perketat Kontrol Selat Hormuz, Kapal Musuh Wajib Kantongi Izin