Ilustrasi produk halal Indonesia. Foto: dok Medcom.id
Kemendag Dorong Ekspansi Produk F&B Halal ke Timur Tengah
Nattasya Amani Vrazeti • 11 August 2026 18:23
Jakarta: Kementerian Perdagangan (Kemendag) mendorong ekspansi industri makanan dan minuman (food and beverage/F&B) Indonesia ke pasar internasional. Salah satu kawasan yang dinilai memiliki potensi besar adalah Timur Tengah, terutama untuk produk F&B bersertifikat halal.
Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri mengatakan karakteristik pasar Timur Tengah sesuai dengan potensi industri makanan dan minuman halal Indonesia.
"Kalau untuk negaranya kita tidak spesifik gitu ya tertentu. Tapi kalau misalnya merujuk kepada misalnya F&B yang sifatnya halal gitu ya, tentu kita punya market yang cukup besar di Middle East misalnya," ucap Roro di Kantor Kemendag, Jakarta Pusat, Selasa, 11 Agustus 2026.
Menurut Roro, peluang ekspansi industri F&B Indonesia tidak hanya terbuka melalui ekspor produk olahan. Sejumlah pelaku usaha juga mulai memperluas bisnis dengan membuka jaringan restoran di luar negeri.
Roro mencontohkan restoran Indonesia, termasuk rumah makan Padang, yang telah melakukan ekspansi ke pasar luar negeri, termasuk kawasan Uni Eropa.
"Sebetulnya produk-produk makanan kita bahkan ada beberapa restoran yang sudah buka cabangnya di luar negeri. Tahun lalu waktu Pangan Nusa, ada beberapa restoran termasuk yang restoran Padang, itu kalau tidak salah sudah ekspansi juga ke Uni Eropa. Jadi sangat variatif dan potensinya juga sangat banyak di luar negeri," ungkap dia.
.jpg)
(Wamendag Dyah Roro Esti Widya Putri. Foto: Biro Humas Kemendag)
Diaspora jadi potensi pasar produk Indonesia
Selain pasar lokal di negara tujuan ekspor, Kemendag melihat diaspora Indonesia di berbagai negara sebagai salah satu kelompok konsumen potensial bagi produk F&B nasional.
Roro mengatakan masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri tetap memiliki kebutuhan terhadap produk dan cita rasa makanan dari Tanah Air.
"Karena diaspora kita walaupun tinggal di luar negeri pasti lidahnya masih Indonesia. Jadi dia butuh, dia butuh sourcing produk dari Indonesia," tutur Roro.
Menurut Kemendag, kebutuhan diaspora tersebut menjadi salah satu peluang bagi pelaku industri F&B untuk memperluas pasar sekaligus meningkatkan permintaan terhadap produk makanan dan minuman Indonesia di luar negeri.