Presiden AS Donald Trump berjabat tangan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping. (Anadolu Agency)
Pengaruh Tiongkok Menguat di Teluk, AS Dinilai Kehilangan Momentum
Dimas Chairullah • 18 April 2026 09:56
Jakarta: Pengaruh Amerika Serikat (AS) di Timur Tengah dinilai mulai menghadapi tantangan dari Tiongkok, yang memperluas perannya di kawasan melalui pendekatan ekonomi.
Pengamat Timur Tengah Universitas Indonesia (UI), Yon Machmudi, mengatakan Tiongkok kini memiliki pengaruh signifikan di kawasan Teluk, meskipun tidak mengandalkan kehadiran militer besar seperti AS.
“Cina hanya memiliki pangkalan militer di Djibouti. Tapi tentu sewaktu-waktu kapal perang mereka bisa digerakkan untuk melindungi kepentingan bisnisnya di sana,” kata Yon kepada Metrotvnews.com, Jumat, 17 April 2026.
Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan strategi AS yang selama ini lebih menekankan kekuatan militer dalam menjaga kepentingannya di kawasan.
Pendekatan Berbeda, Dampak Berbeda
Yon menilai pendekatan Tiongkok yang berbasis kerja sama ekonomi cenderung lebih efektif dalam membangun hubungan dengan negara-negara Arab.Sebaliknya, ia mengkritik pendekatan militer AS yang disebutnya sebagai “diplomasi bom.”
“Diplomasi Amerika itu lebih cocok disebut diplomasi bom. Jadi negara-negara dibom dulu, baru setelah itu diajak berunding atau membuat kesepakatan,” ujarnya.
Menurut Yon, pendekatan keras tersebut tidak selalu berhasil, terutama dalam menghadapi Iran.
“Di negara lain mungkin taktik itu berhasil, tapi ternyata tidak berlaku untuk Iran. Amerika sekarang jadi sangat kesulitan karena perangnya terus berlarut-larut,” kata dia.
Ia menilai situasi tersebut menunjukkan keterbatasan strategi militer dalam menyelesaikan konflik yang kompleks di kawasan Timur Tengah.
Baca juga: Tulis Surat, Trump Minta Presiden Tiongkok Tidak Kirim Senjata ke Iran