Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu. Foto: Metrotvnews.com/Husen Miftahudin.
Kemenkeu: Kinerja 2025 Solid, Jadi Modal Kuat bagi Ekonomi 2026
Ade Hapsari Lestarini • 7 January 2026 11:30
Jakarta: Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan sejumlah instrumen ekonomi Indonesia mencetak kinerja solid pada penutup 2025, yang menjadi modal kuat untuk pertumbuhan ekonomi pada 2026.
Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu Febrio Kacaribu menjelaskan, 2025 ditutup dengan aktivitas manufaktur yang ekspansif, inflasi yang terkendali, serta neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.
"Faktor-faktor tersebut menjadi modal penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat di 2026," kata Febrio dalam keterangan tertulis di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 7 Januari 2026.
Aktivitas manufaktur mencetak indeks PMI Manufaktur Indonesia pada level 51,2 pada Desember 2025, melanjutkan tren ekspansif selama lima bulan berturut-turut. Kinerja positif ini didukung kuatnya permintaan domestik, peningkatan ketenagakerjaan, serta aktivitas pembelian bahan baku.
Optimisme pelaku usaha juga menguat dan mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir, mencerminkan keyakinan terhadap prospek sektor manufaktur ke depan.
Sementara dari sisi global, aktivitas manufaktur negara mitra utama Indonesia secara umum juga berada di zona ekspansif yang memberikan sinyal positif bagi permintaan ekspor Indonesia. Dari sisi neraca perdagangan, tren surplus masih berlanjut dengan nilai terakhir USD2,66 miliar pada November 2025.

Ilustrasi. Foto: Metrotvnews.com/Khairunnisa Puteri M
Baca Juga :
Gaji hingga Rp10 Juta Tak Kena PPh 21
Neraca perdagangan surplus
Secara kumulatif Januari-November 2025, neraca perdagangan mencatat surplus sebesar USD38,54 miliar, naik USD9,30 miliar (cumulative-to-cumulative/ctc).
"Ke depan, dorongan terhadap keberlanjutan hilirisasi sumber daya alam, peningkatan daya saing produk ekspor nasional, serta diversifikasi mitra dagang utama akan terus diperkuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika global," ujar Febrio.
Sementara tingkat inflasi sepanjang 2025 terkendali sebesar 2,92 persen (year-on-year/yoy). Gangguan cuaca dan kendala distribusi mendorong naiknya inflasi harga bergejolak (volatile food) hingga mencapai 6,21 persen (yoy), dipengaruhi oleh komoditas aneka cabai, beras, dan ikan segar.
Inflasi harga diatur pemerintah tercatat sedikit meningkat menjadi 1,93 persen (yoy) yang didorong oleh kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif transportasi di periode Natal tahun baru. Sementara itu, inflasi inti (core inflation) tercatat stabil pada level 2,38 persen (yoy) karena naiknya harga emas perhiasan.
Berbagai indikator ekonomi domestik juga menunjukkan perkembangan positif di akhir 2025. Hingga November, Indeks Keyakinan Konsumen menguat ke level 124, sementara Indeks Penjualan Riil tumbuh 5,94 persen (yoy) didorong peningkatan penjualan makanan dan minuman serta mobilitas masyarakat.
Penguatan aktivitas ekonomi juga tercermin dari meningkatnya penjualan listrik sektor bisnis sebesar 6,2 persen (yoy), dengan penjualan listrik rumah tangga dan industri yang tumbuh stabil.
"Pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas serta memperkuat momentum pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal diarahkan mendukung program pembangunan nasional guna memastikan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan," tutur Febrio.