Sepekan Tanpa Gawai, Siswa Diajak Mengenal Budaya Tradisional Jawa di Yogyakarta

Siswa SDK Penabur belajar membatik di Yogyakarta. Istimewa

Sepekan Tanpa Gawai, Siswa Diajak Mengenal Budaya Tradisional Jawa di Yogyakarta

Whisnu Mardiansyah • 18 June 2026 12:24

Yogyakarta: Sebanyak 971 siswa kelas 5 dari 21 Sekolah Dasar Kristen (SDK) PENABUR Jakarta mengikuti kegiatan pembelajaran luar sekolah bertajuk Spirit of Braveness di Daerah Istimewa Yogyakarta pada 7-15 Juni. Kegiatan ini dirancang untuk mengasah kemandirian, keberanian, serta kepedulian sosial para siswa.

"Dalam tiga hari ini, para peserta berkesempatan mengenal secara langsung kebudayaan Yogyakarta yang luhur dan indah, seperti melalui alat musik, tarian, permainan, bahkan makanan tradisionalnya. Mereka diajak untuk mengenal kebudayaan yang berbeda dari keseharian mereka," ujar Kepala Jenjang SD BPK PENABUR Jakarta, Wahyu Kristiani dalam keterangan tertulis yang diterima, Kamis, 18 Juni 2026.

Pada hari pertama, para peserta diajak merasakan pengalaman hidup di Desa Wisata Santan, Kabupaten Bantul. Mereka belajar alat musik tradisional gamelan, serta bermain permainan lokal seperti gangsing dan dakon.

Siswa juga berkesempatan membuat batik tulis, merangkai kerajinan tangan berbahan dasar batok kelapa, berfoto dengan pakaian adat, hingga menyaksikan pertunjukan wayang kulit secara langsung. Kegiatan lain di Desa Santan adalah mengunjungi para lansia dan para peserta menginap di rumah-rumah warga setempat.

 


Hari kedua diisi dengan kunjungan wisata edukasi ke Gunung Merapi, Candi Prambanan, serta Alun-alun Utara Yogyakarta. Di sini, peserta menikmati kuliner tradisional. Memasuki hari ketiga, peserta diajak mengunjungi Pabrik Cokelat Monggo serta belajar olahraga tradisional jemparingan (memanah) dan tarian anak-anak tradisional.

Salah satu peserta, Jevan Raphael Lefrand dari SDK 11 PENABUR, mengungkapkan bahwa bersepeda keliling desa menjadi pengalaman paling berkesan. Kehidupan seperti ini yang ia tidak temukan di kota.

"Anak-anaknya asyik diajak main, terus aku juga ajak teman-temanku untuk main bareng mereka," cerita Jevan dengan penuh semangat.

Siswi SDK 11 PENABUR lainnya, Kayla, menceritakan pengalaman serunya mengunjungi Candi Prambanan. Baginya, kunjungan itu memberinya kesempatan belajar lebih mendalam tentang sejarah dan budaya Jawa di Yogyakarta.

"Saya melihat banyak relief dan dijelaskan oleh pemandu bagaimana cerita dari relief itu," tambah Kayla.


Siswa SDK Penabur belajar kehidupan tradisional budaya masyarakat Jawa di Yogyakarta. Istimewa


Apresiasi Pemerintah Daerah

Kegiatan yang telah berlangsung sejak tahun 2016 ini mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah setempat. Dalam kunjungannya ke Desa Wisata Santan, Bantul, perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Karman, menyambut baik inisiatif tersebut.

"Kegiatan Spirit of Braveness ini menjadi kesempatan yang baik sekali untuk memperkenalkan budaya tradisional Yogyakarta, khususnya Kabupaten Bantul, kepada siswa-siswi SDK PENABUR Jakarta. Kami berharap kegiatan ini dapat berkelanjutan, karena selain menambah wawasan, juga dapat mendorong pelestarian budaya tradisional," ujar Karman.

Sementara itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Daerah Istimewa Yogyakarta, Muhammad Setiadi, di sela-sela kegiatan jemparingan di Kampung Mataraman, Bantul, membacakan sambutan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X. Dalam sambutannya, Gubernur memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini.

"Kami merasa terhormat dan berterima kasih karena BPK PENABUR Jakarta memilih DIY sebagai tujuan wisata edukasi. Kami meyakini pembelajaran tidak terbatas hanya di ruang kelas, namun perlu dilengkapi dengan pengalaman yang didapat di luar kelas," ucap Setiadi.


Kegiatan Bebas Gawai

Dalam total waktu lima hari, termasuk dua hari perjalanan menggunakan kereta api, para peserta tidak diperkenankan membawa dan menggunakan gawai.

"Tantangannya justru dari orang tua, yang belum terbiasa tidak dapat secara leluasa menghubungi putra-putrinya. Namun, kami meyakinkan bahwa di bawah pendampingan guru, anak-anak tetap aman. Kami berharap kegiatan tanpa gawai ini menjadi kesempatan untuk anak-anak bebas bermain selayaknya anak-anak dan berinteraksi dengan teman-teman mereka," jelas Wahyu.

Kebijakan ini disambut baik oleh Johannes Ravial Santos, siswa SDK PENABUR Gading Serpong. "Saya senang karena tidak membawa ponsel, saya jadi lebih banyak ngobrol dan bermain dengan teman-teman. Seperti tadi di bus, kita jadi bercanda-canda, seru-seruan. Kalau bawa ponsel, kita malah main sendiri-sendiri," tambahnya.

Wahyu berharap melalui kegiatan ini, para peserta memperoleh wawasan dan pengalaman baru yang bermanfaat bagi kehidupan mereka ke depan.

"Semoga anak-anak makin terlatih kemandiriannya ketika terpisah dari orang tua, mereka juga semakin berani mencoba hal-hal baru, semakin peduli dengan kondisi lingkungan sekitar, serta mau membantu sesama yang membutuhkan," tutup Wahyu.

(Whisnu M)