Rumah warga di Desa Kamarora B Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, roboh dampak gempa magnitudo 6,7 mengguncang daerah tersebut, Rabu, 17 Juni 2026. ANTARA/Moh Ridwan
Sigi Tanggap Darurat Bencana Hingga 30 Juni
Silvana Febiari • 18 June 2026 10:18
Sigi: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sigi, Sulawesi Tengah (Sulteng), menetapkan status tanggap darurat bencana pasca-gempa magnitudo 6,7. Status tersebut diberlakukan selama 14 hari, terhitung mulai 17 hingga 30 Juni 2026.
"Status tanggap darurat bencana berlangsung selama 14 hari terhitung mulai 17 hingga 30 Juni 2026," kata Wakil Bupati Sigi Samuel Pongi usai rapat Satuan Tugas (Satgas) Tanggap Darurat Bencana Sigi, dilansir Antara, Kamis, 18 Juni 2026.
Ia menjelaskan data sementara yang dihimpun Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat jumlah warga terdampak sebanyak 5.300 jiwa atau 1.300 Kepala Keluarga (KK). Sementara rumah rusak sebanyak 1.300 unit.
Sejak hari pertama gempa, Pemkab Sigi telah membantu proses evakuasi warga. Di hari kedua, pemerintah fokus melakukan penyaluran logistik makanan, air bersih, tenda, dan penanganan medis terhadap korban bencana.
"Kehadiran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) di lokasi bencana merupakan bukti pemerintah hadir dalam melakukan percepatan pemulihan bencana," ujarnya.
Ia menjelaskan gempa dangkal yang mengguncang Sigi setidaknya memberikan dampak kerusakan di dua kecamatan, yakni Kecamatan Palolo dan Kecamatan Nokilalaki.
Di masa tanggap darurat, Pemkab Sigi juga mengerahkan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dibantu TNI/Polri, Tagana, dan relawan lainnya dari berbagai lembaga untuk mempercepat penanggulangan kedaruratan.
"Kami berupaya memberikan pelayanan prima kepada warga terdampak. Pemerintah daerah juga telah mendirikan posko induk, posko kesehatan maupun dapur umum untuk melayani kebutuhan masyarakat," ucap Samuel yang juga Ketua Satgas Tanggap Darurat Bencana Sigi.
Hingga saat ini warga masih memilih mendirikan tenda darurat di depan rumah masing-masing sebagai tempat berlindung sementara. Mereka belum banyak yang memanfaatkan posko pengungsian yang telah disiapkan pemerintah.
"Alasan warga tidak mau mengisi posko pengungsian karena mereka menjaga harta benda, sehingga lebih memilih tidur di tenda darurat," tuturnya.

Warga Sigi mendirikan tenda darurat di depan rumah. (Metro TV/ Rahman)
Saat ini, tim di lapangan terus melakukan pendataan terhadap warga terdampak. Pendataan tersebut dilakukan bersamaan dengan asesmen kerusakan rumah bersama tim dari Balai Pelaksana Penyedia Perumahan dan Kawasan Permukiman (BP3KP).
"Kami berterima kasih gerak cepat relawan membantu warga terdampak, terutama dalam memberikan layanan dasar. Kami berharap kolaborasi ini terus berlanjut hingga nanti situasi benar-benar pulih," ungkap dia.