Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman berjanji merebut kembali Sanaa dan Hodeidah dari Houthi. (Anadolu Agency)
Yaman Bertekad Rebut Kembali Kota Sanaa dan Hodeidah dari Houthi
Willy Haryono • 24 August 2026 18:35
Sanaa: Dewan Kepemimpinan Presiden Yaman (PLC) berjanji merebut kembali ibu kota Sanaa dan kota pelabuhan strategis Hodeidah dari kelompok Houthi.
Anggota PLC Tareq Saleh mengatakan penguasaan kembali kedua wilayah tersebut diperlukan untuk mengamankan jalur pelayaran di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandab.
"Pengamanan Laut Merah dan Bab al-Mandab dimulai dengan merebut kembali Hodeidah dan Sanaa dari milisi Houthi," kata Saleh dalam video yang disiarkan pada Minggu, 23 Agustus 2026.
"Keamanan jalur perairan di lepas pantai Yaman bergantung pada penyelesaian pembebasan seluruh wilayah nasional," lanjutnya, dikutip dari kantor berita 2 December yang berafiliasi dengan PLC.
Saleh menyampaikan pernyataan tersebut dalam konferensi video dengan para pemimpin unit bimbingan moral pasukan National Resistance yang bersekutu dengan pemerintah Yaman.
Ia juga mengatakan "pertempuran sebenarnya belum dimulai" dan menyerukan penguatan persatuan nasional hingga Sanaa dapat direbut kembali.
Bentrokan dengan Houthi Berlanjut
Perkembangan tersebut terjadi ketika pasukan yang bersekutu dengan pemerintah Yaman melaporkan sejumlah operasi terhadap kelompok Houthi.Giants Brigades, kelompok yang mendukung pemerintah, mengatakan pada Minggu telah menyerang dua posisi Houthi di front Al-Bayda, Yaman tengah.
Menurut kelompok tersebut, serangan dilakukan setelah pemantauan terhadap pergerakan dan pembangunan benteng militer Houthi.
Giants Brigades mengklaim beberapa anggota Houthi tewas dan sejumlah peralatan pengeboran yang digunakan untuk menggali parit serta membangun benteng militer hancur.
Pada Senin ini, Southern Armed Forces yang berafiliasi dengan pemerintah juga mengatakan telah mencegat sejumlah drone Houthi di sebelah barat Aden, ibu kota sementara Yaman.
Houthi belum memberikan tanggapan terhadap klaim tersebut.
Yaman Kembali Terancam Perang Besar
Yaman relatif mengalami penurunan intensitas konflik sejak April 2022, setelah bertahun-tahun perang antara pasukan pemerintah yang didukung koalisi pimpinan Arab Saudi dan Houthi yang didukung Iran.Houthi merebut Sanaa dan sebagian besar wilayah Yaman pada 2014.
Konflik kembali mendapat dimensi regional sejak akhir 2023 setelah perang di Gaza pecah. Houthi melancarkan serangan terhadap Israel dan kapal komersial di Laut Merah dengan alasan mendukung Palestina.
Perkembangan terbaru di sejumlah wilayah Yaman memunculkan kekhawatiran bahwa konflik yang sebelumnya relatif mereda dapat kembali berkembang menjadi perang berskala besar.
Baca juga: PBB Desak Deeskalasi setelah Korban Sipil di Yaman Terus Bertambah