Karhutla Kalteng Picu Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

Kabut asap akibat karhutla tampak menyelimuti kawasan Jalan Tjilik Riwut di Kota Sampit, beberapa waktu lalu. (ANTARA/Dokumentasi Pribadi)

Karhutla Kalteng Picu Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat

Silvana Febiari • 2 September 2026 16:32

Palangkaraya: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah (Kalteng) menyebabkan kualitas udara berada pada kategori sangat tidak sehat dengan jarak pandang sekitar tiga kilometer. Kondisi tersebut menjadi salah satu perhatian dalam penanganan karhutla di wilayah tersebut.

"Untuk Kalimantan Tengah, kita juga menemukan titik api sebesar 50 titik dengan luas lahan terbakar di tanggal 1 September kemarin adalah 77 hektare lebih, dan luas yang berhasil dipadamkan sebesar 48 hektare lebih, dengan kualitas udara sangat tidak sehat, dengan jarak pandang sebesar 3 km," kata BertonPelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan dalam konferensi pers, Rabu, 2 Agustus 2026.

Penanganan karhutla dilakukan melalui Satgas Darat dan Satgas Udara. Untuk operasi darat, sebanyak 10.700 personel dikerahkan dengan luas lahan yang berhasil dipadamkan mencapai lebih dari 48 hektare.


Sementara itu, operasi udara dilakukan menggunakan dua armada dengan waktu operasi selama 3 jam 12 menit. Namun, water bombing belum dilakukan di Kalteng.

BNPB tetap melakukan upaya lain melalui operasi modifikasi cuaca (OMC) dengan menyebarkan 800 kilogram garam dalam satu kali operasi selama 2 jam 8 menit. Namun, upaya tersebut belum menghasilkan hujan karena kondisi atmosfer yang tidak mendukung.

"OMC yang dilaksanakan tidak menghasilkan curah hujan karena memang pertumbuhan awan sangat rendah di atmosfer di Kalimantan Tengah," ujarnya.


Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB saat menyampaikan perkembangan penanganan karhutla. (Dokumentasi/ YouTube BNPB)


Operasi darat penanganan karhutla dilakukan di 10 kabupaten/kota, yakni Palangkaraya, Kotawaringin Timur, Seruyan, Katingan, Kapuas, Pulang Pisau, Lamandau, Barito Utara, Barito Selatan, dan Gunung Mas.

Untuk mendukung operasi udara, empat helikopter dalam kondisi standby. Sementara satu helikopter water bombing berada dalam kondisi maintenance untuk memastikan kesiapan mesin dan operator dalam operasi berikutnya.

"Namun demikian, masyarakat tetap beraktivitas seperti biasa dan kegiatan belajar mengajar tetap dilaksanakan secara tatap muka," ungkapnya.

(Silvana Febiari)