Qatar Ingin Perang AS-Iran Dipadamkan Bertahap, Selat Hormuz Jadi Prioritas

Qatar ingin perang AS-Iran dipadamkan secara bertahap dengan membuka Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Qatar Ingin Perang AS-Iran Dipadamkan Bertahap, Selat Hormuz Jadi Prioritas

Willy Haryono • 8 September 2026 08:23

Doha: Qatar ingin krisis akibat perang Amerika Serikat dan Iran “dipadamkan secara bertahap," bukan dihentikan secara langsung melalui penghentian sementara permusuhan.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari mengatakan pendekatan tersebut diperlukan untuk menciptakan kondisi yang memungkinkan dialog regional komprehensif dan solusi politik berkelanjutan.

Dalam wawancara dengan CNN, Senin, 7 September 2026, Al-Ansari mengatakan Doha tidak ingin konflik hanya dibekukan karena hal tersebut berisiko memicu eskalasi baru dalam beberapa bulan mendatang.

“Kita harus memadamkan krisis ini secara bertahap, bukan mengakhirinya secara langsung,” kata Al-Ansari.

“Yang perlu kita lakukan adalah memastikan situasinya berada dalam kondisi yang memungkinkan kita melakukan negosiasi yang tepat untuk solusi berkelanjutan,” lanjutnya.

Menurut Al-Ansari, Qatar tidak ingin kawasan Timur Tengah berpindah dari satu konflik berintensitas tinggi ke konflik serupa lainnya.

“Kami tidak ingin berpindah dari konflik berintensitas tinggi ke konflik berintensitas tinggi lainnya. Kami tidak ingin membekukan konflik ini dan kemudian kembali berada di sini beberapa bulan lagi,” ujarnya.

Selat Hormuz Jadi Prioritas

Al-Ansari mengatakan Qatar saat ini memiliki dua prioritas utama.

Pertama, memastikan Selat Hormuz tetap terbuka sekaligus mengurangi tekanan ekonomi yang dirasakan negara-negara kawasan, termasuk Iran.

“Kami harus memastikan Selat (Hormuz) terbuka dan tekanan ekonomi terhadap kita semua secara kolektif serta masyarakat di kawasan, termasuk rakyat Iran, berkurang,” katanya.

Prioritas kedua adalah mencegah eskalasi militer lebih lanjut agar negara-negara di kawasan nantinya dapat mendorong dialog bersama. Menurut Al-Ansari, dialog tersebut harus bersifat inklusif dan melibatkan negara-negara kawasan, bukan hanya pihak eksternal.

“Ketika kita sampai pada titik itu, kita perlu dorongan regional, bersama-sama, untuk memastikan dialog terjadi dan dialog tersebut komprehensif serta mencakup kita semua, bukan hanya pihak luar,” katanya.

Ia mengatakan masih terdapat dua hambatan utama untuk mencapai penyelesaian, yakni kemauan politik dan persoalan teknis.

Qatar, kata Al-Ansari, tengah mengembangkan sejumlah proposal untuk mengatasi kedua persoalan tersebut.

Qatar Tolak Konflik Jadi ‘Normal Baru’

Al-Ansari juga menilai sanksi sejauh ini gagal menghasilkan dampak diplomatik yang diharapkan. Menurutnya, konflik pada akhirnya hanya dapat diselesaikan melalui negosiasi dan kesepakatan politik.

“Pada akhirnya, masalah ini hanya akan diselesaikan melalui sebuah kesepakatan. Ini hanya akan diselesaikan di meja perundingan,” ujarnya.

Ia juga memperingatkan agar gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz tidak dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Menurut Al-Ansari, gangguan berkepanjangan terhadap jalur tersebut dapat menimbulkan dampak yang jauh melampaui kawasan Timur Tengah, termasuk melalui guncangan terhadap energi, pangan, dan perekonomian global.

“Kita harus menghentikan ini sejak masih dini. Ini tidak boleh menjadi normal baru dalam perang, ketika negara-negara pada dasarnya dapat menutup jalur perairan dengan cara seperti ini,” katanya.

Al-Ansari menyerukan agar prinsip akuntabilitas dan hukum internasional tetap ditegakkan.

Ia memperingatkan bahwa jika tindakan seperti penutupan jalur pelayaran menjadi sesuatu yang dianggap wajar dalam konflik, konsekuensinya dapat meluas jauh melampaui perang AS-Iran saat ini.

Baca juga: AS Isyaratkan Opsi Militer jika Kesepakatan Nuklir dengan Iran Gagal

(Willy Haryono)