Konferensi IAEA ke-70 dibuka di Wina di tengah ketegangan geopolitik. (Anadolu Agency)
Konferensi ke-70 IAEA Dimulai, PBB Peringatkan Ancaman Proliferasi Nuklir
Willy Haryono • 15 September 2026 08:50
Wina: Konferensi Umum ke-70 Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dibuka di Wina, Austria pada Senin, 14 September 2026, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap ancaman proliferasi nuklir.
Konferensi tersebut dibuka dengan seruan untuk memperkuat kerja sama multilateral serta mempertahankan rezim global nonproliferasi senjata nuklir.
Dalam pesan yang disampaikan Direktur Jenderal Kantor PBB di Wina Monica Juma, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengatakan konferensi berlangsung ketika dunia menghadapi ketidakpastian dan gejolak yang mendalam.
Menurut Guterres, serangan terhadap fasilitas nuklir meningkat, sementara faktor yang mendorong proliferasi senjata nuklir semakin kuat dan mekanisme penghalangnya justru melemah.
“Dunia berada di ambang revolusi dalam pembangkitan energi nuklir, sebuah revolusi yang membutuhkan pengelolaan dan pemantauan secara hati-hati. Lebih dari sebelumnya, dunia membutuhkan profesionalisme, ketidakberpihakan, dan keunggulan teknis IAEA,” kata Guterres dalam pesannya, dikutip dari China Daily, Selasa, 15 September 2026.
Ia menilai perkembangan teknologi nuklir membutuhkan pengawasan internasional yang kuat agar pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai dapat terus berkembang tanpa meningkatkan risiko keamanan global.
IAEA Pertahankan NPT
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi mengatakan Perjanjian Nonproliferasi Senjata Nuklir (NPT) tetap menjadi landasan utama rezim global nonproliferasi nuklir.Menurut Grossi, meningkatnya ketegangan dan ketidakpercayaan antarnegara membuat upaya memperkuat kerangka hukum internasional tersebut semakin penting.
“Pada masa meningkatnya ketegangan dan ketidakpercayaan ini, kita harus memperkuat kerangka hukum tersebut dengan mendukung IAEA dan bekerja menuju tujuan-tujuannya. Dunia dengan lebih banyak senjata nuklir dan lebih banyak negara yang memiliki senjata nuklir bukanlah dunia yang lebih aman,” ujar Grossi.
Pernyataan tersebut menegaskan kembali posisi IAEA bahwa penguatan mekanisme pengawasan dan nonproliferasi menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas keamanan internasional.
Sesi reguler ke-70 Konferensi Umum IAEA berlangsung hingga 18 September 2026. Hampir 4.000 pejabat senior dan perwakilan negara-negara anggota IAEA hadir dalam pertemuan tersebut. Konferensi juga dihadiri delegasi organisasi internasional dan lembaga swadaya masyarakat.
Konferensi Umum IAEA digelar setiap tahun sejak badan tersebut didirikan pada 1957. Forum tersebut membahas berbagai isu terkait pemanfaatan teknologi nuklir untuk tujuan damai.
Agenda pembahasan mencakup penggunaan energi nuklir untuk pembangkitan listrik, pemanfaatan teknologi nuklir dalam penanganan kanker, ketahanan pangan, pengelolaan air, serta keselamatan dan keamanan nuklir.
Para delegasi juga membahas isu safeguards, yakni mekanisme verifikasi IAEA untuk memastikan material dan teknologi nuklir tidak dialihkan dari tujuan damai menuju pengembangan senjata nuklir.
Pertemuan tahun ini berlangsung ketika sejumlah negara kembali memperluas perhatian terhadap energi nuklir sebagai bagian dari transisi energi, sementara ketegangan geopolitik meningkatkan tantangan terhadap sistem pengawasan dan nonproliferasi global.
Baca juga: IAEA Desak Iran Buka Akses Nuklir di Tengah Ancaman Rujukan ke DK PBB