Harga Emas Dunia Menguat, Nyaris Cetak Rekor Tertinggi 3 Bulan

Ilustrasi emas batangan. Foto: Bullionvault.com

Harga Emas Dunia Menguat, Nyaris Cetak Rekor Tertinggi 3 Bulan

Husen Miftahudin • 24 August 2026 11:45

Chicago: Harga emas dunia menguat hingga berada di dekat level tertinggi dalam tiga bulan. Penguatan terjadi setelah harga emas melonjak lebih dari lima persen pada pekan sebelumnya di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap kebijakan Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS), kondisi fiskal, dan prospek dolar AS.

Mengutip Investing.com, Senin, 24 Agustus 2026, harga emas spot XAU/USD naik 0,5 persen menjadi USD4.627,69 per troy ons. Sementara kontrak berjangka emas juga naik 0,1 persen menjadi USD4.683,85 per troy ons.

Adapun, harga perak XAG/USD turun 0,3 persen menjadi USD68,79 per troy ons. Platinum XPT/USD melemah 0,4 persen menjadi USD1.872,74 per troy ons. Indeks dolar AS bergerak terbatas di level 98,82.

Kenaikan harga emas berlanjut setelah logam mulia tersebut menguat lebih dari lima persen pada pekan lalu. Penguatan itu menjadi kenaikan mingguan ketiga secara berturut-turut.

Harga emas sempat menembus USD4.620 per troy ons pada Senin setelah naik 1,9 persen pada Jumat. Posisi tersebut membuat harga emas tetap berada di dekat level tertinggi tiga bulan.

Penguatan harga emas berkaitan dengan keputusan Departemen Keuangan AS meningkatkan pembelian obligasi pemerintah jangka panjang. Kebijakan tersebut mendorong penurunan imbal hasil obligasi dan memberi tekanan terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut turut meningkatkan minat investor terhadap emas sebagai aset penyimpan nilai di tengah kekhawatiran terhadap daya beli mata uang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent kemudian mengisyaratkan kemungkinan perluasan program pembelian kembali obligasi. Pemerintah AS juga disebut akan meluncurkan inisiatif fiskal untuk mengatasi tingginya biaya pinjaman pemerintah.
 

 

Kekhawatiran fiskal AS dorong minat emas


Intervensi Departemen Keuangan AS tidak hanya berdampak terhadap imbal hasil obligasi. Kebijakan tersebut juga memunculkan perhatian terhadap posisi fiskal AS dan peran pemerintah dalam memengaruhi biaya pinjaman.

Analis ANZ menilai kondisi tersebut turut mendukung harga emas di atas USD4.500 per troy ounce. Ekspektasi pemerintah AS menjaga imbal hasil obligasi jangka panjang serta tekanan terhadap dolar menjadi faktor yang mendorong investor meningkatkan eksposur terhadap emas.

Perhatian terhadap kondisi fiskal AS semakin besar setelah utang pemerintah AS melampaui USD40 triliun untuk pertama kalinya. Pada saat yang sama, dolar AS turun ke level terendah dalam lebih dari tiga bulan.

Minat investor terhadap emas juga tercermin dari aliran dana ke produk investasi berbasis emas. Menurut analis ANZ, ETF berbasis emas mencatat arus masuk harian terbesar sejak September 2025. Arus masuk bersih juga berlanjut selama lima pekan berturut-turut.

Dari sisi teknikal, harga emas telah bergerak di atas rata-rata pergerakan 200 hari yang berada di sekitar USD4.513 per troy ons. Level tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau pelaku pasar untuk melihat arah tren jangka panjang. Jika momentum penguatan berlanjut, level USD4.700 per troy ons menjadi salah satu target teknikal berikutnya.


(Grafik pergerakan harga emas. Foto: dok Bappebti)
 

Ketidakpastian geopolitik topang permintaan


Ketidakpastian geopolitik juga masih menjadi salah satu faktor yang mendukung permintaan emas sebagai aset penyimpan nilai.

Harga emas telah bertahan di atas USD4.000 per troy ons yang sebelumnya menjadi area dukungan penting dalam koreksi harga. Pembelian oleh bank sentral dan meningkatnya permintaan ETF turut menopang pemulihan harga.

ANZ menilai perubahan posisi investor mencerminkan upaya diversifikasi aset di tengah meningkatnya perhatian terhadap kondisi fiskal AS, tingginya utang pemerintah, dan ketidakpastian arah kebijakan.

Dewan Emas Dunia juga menyoroti peran permintaan bank sentral terhadap pasar emas di tengah risiko geopolitik dan inflasi yang masih tinggi.

(Husen Miftahudin)