Badan Geologi: Asap di Gunung Raung Akibat Kebakaran, Bukan Erupsi

Gunung Raung erupsi. Dokumentasi/ situs esdm

Badan Geologi: Asap di Gunung Raung Akibat Kebakaran, Bukan Erupsi

Lukman Diah Sari • 20 August 2026 10:15

Jakarta: Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengonfirmasi bahwa fenomena kepulan asap di lereng atas bagian selatan Gunung Raung, Jawa Timur, dipicu oleh kebakaran lahan. Asap tersebut dipastikan bukan akibat aktivitas vulkanik maupun erupsi.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan titik kepulan asap mulai teramati pada Rabu, 19 Agustus 2026, pukul 06.30 WIB, dan terlihat terus bergerak serta melebar pada pukul 13.06 WIB.

"Dari karakter sebaran, lokasi, dan warna asap yang teramati, diduga bahwa fenomena kepulan asap tersebut diakibatkan oleh kebakaran lahan," kata Lana di Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2026, melansir Antara.

Lana menjelaskan, pengamatan visual Gunung Raung selama dua pekan terakhir hanya menunjukkan embusan gas atau uap air bertekanan fluktuatif. Ketinggian embusan terpantau maksimal 500 meter dari atas puncak, tanpa teramati adanya aktivitas erupsi yang menghasilkan material batuan.

Selain itu, rekaman kegempaan hanya didominasi oleh gempa embusan permukaan akibat pelepasan tekanan gas. Tidak terdeteksi adanya peningkatan jumlah maupun jenis kegempaan yang mengindikasikan proses migrasi magma ke permukaan kawah.

Kepulan asap yang teramati petugas vulkanologi badan geologi di lereng atas bagian selatan Gunung Raung, Jawa Timur, dipicu oleh kebakaran lahan, bukan aktivitas vulkanik maupun erupsi. ANTARA/HO-Badan Geologi.

Hingga saat ini, Badan Geologi menetapkan tingkat aktivitas Gunung Raung yang beririsan dengan wilayah Kabupaten Banyuwangi, Jember, dan Bondowoso, tetap pada Level II atau Waspada. Status ini telah berlaku sejak 19 Desember 2023.

"Untuk itu, masyarakat maupun wisatawan diimbau untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi di kawah puncak guna menghindari potensi bahaya akumulasi gas vulkanik berkepekatan tinggi," pesannya.

(Lukman Diah Sari)