Trump: Negara Eropa Harus Ganti Biaya Bantuan Militer AS untuk Ukraina

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: Anadolu

Trump: Negara Eropa Harus Ganti Biaya Bantuan Militer AS untuk Ukraina

Muhammad Reyhansyah • 4 September 2026 14:59

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Washington akan meminta negara-negara Eropa membayar kembali biaya bantuan militer dan amunisi yang sebelumnya dikirim ke Ukraina selama perang melawan Rusia.

Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial pada Kamis, 3 September 2026. Ia mengeklaim ratusan miliar dolar bantuan telah diberikan secara gratis kepada Ukraina dan NATO selama pemerintahan pendahulunya, Joe Biden.

“Ratusan miliar dolar diberikan kepada Ukraina dan NATO secara gratis, yang seharusnya dibayar oleh Eropa. Jika mereka hanya diminta, tetapi kami akan meminta uang itu, meskipun agak terlambat,” tulis Trump, dikutip dari Channel News Asia.

Trump juga menyinggung kondisi persediaan amunisi AS yang disebut menipis akibat perang di Iran. Ia mengatakan Washington kini meningkatkan produksi sekaligus menimbun amunisi untuk kebutuhan militernya sendiri.

“Kami mengambilnya untuk diri kami sendiri, AS, alih-alih menjualnya kepada pihak lain. Namun, penjualan kepada sekutu akan segera dimulai kembali,” ujar Trump.

Kebijakan tersebut muncul setelah AS dan NATO pada tahun lalu membentuk inisiatif Prioritised Ukraine Requirements List (PURL), yang memungkinkan negara-negara Eropa membayar senjata buatan AS untuk kemudian dikirimkan ke Ukraina.

Dilaporkan bahwa Angkatan Darat AS telah menggunakan sebagian besar persediaan rudal jarak jauh berpresisi tinggi selama perang dengan Iran. Kondisi itu memicu kekhawatiran mengenai kesiapan militer AS menghadapi konflik di masa depan.

Di sisi lain, perang Ukraina dan Iran turut menekan perekonomian AS melalui kenaikan harga energi. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia ikut mendorong kenaikan harga minyak dan gas global.

“Kami sedang menghadapi guncangan energi saat ini akibat perang di Ukraina dan konflik di Iran,” kata Bessent kepada Fox News.

(Fajar Nugraha)