Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Sukses Lepas Landas, Lebih Hemat?

Pesawat listrik terbesar yang pernah mengudara, X1. Foto: Heart Aerospace

Pesawat Listrik Terbesar di Dunia Sukses Lepas Landas, Lebih Hemat?

Muhamad Marup • 2 September 2026 19:57

Jakarta: Heart Aerospace berhasil menerbangkan X1, pesawat listrik terbesar yang pernah mengudara. Pesawat buatan perusahaan asal Swedia tersebut terbang perdana pada 12 Agustus 2026 lalu di Plattsburgh International Airport, New York, Amerika Serikat.

Melansir situs Heart Aerospace, misi berawak berlangsung selama 27 menit. X1 mencapai 1.110 kaki di atas permukaan tanah dan sistem propulsi serba listriknya menghasilkan daya lebih dari satu megawatt.

Penerbangan tersebut dilakukan di bawah Sertifikat Kelaikan Udara Khusus FAA dalam Kategori Eksperimental (SAC-EC), dengan profil pengujian yang mencakup pergerakan di landasan, lepas landas, pendakian, manuver, dan pendaratan. Misi ini dirancang untuk mendemonstrasikan penerbangan serba listrik dalam skala yang relevan dengan operasi maskapai penerbangan komersial.

Keberhasilan penerbangan X1 menjadi bagian dari pengujian teknologi pesawat listrik berukuran lebih besar. Heart Aerospace menggunakan pesawat ini untuk menguji sistem propulsi, baterai, aerodinamika, kontrol penerbangan, dan berbagai komponen lainnya.

Ukuran dan Spesifikasi X1

X1 memiliki bentang sayap 106 kaki atau sekitar 32 meter. Panjang pesawat mencapai 76 kaki atau sekitar 23 meter, dengan bobot saat lepas landas lebih dari 25.000 pound atau sekitar 11,3 ton.

Pesawat ini dilengkapi empat motor listrik yang dipasang pada bagian sayap. Masing-masing motor memiliki kapasitas 400 kW.

X1 memiliki kecepatan maksimum yang dirancang mencapai 140 knot atau sekitar 259 kilometer per jam. Pengujian awal dilakukan pada ketinggian rendah dengan batas hingga 2.000 kaki atau sekitar 610 meter.

Spesifikasi Pesawat Listrik Terbesar di Dunia, Tuntaskan Penerbangan Pertama

Pesawat listrik terbesar di dunia, Heart X1. Foto: Heart Aerospace

Tekan Biaya

X1 menggunakan tenaga baterai selama penerbangan perdananya. Heart Aerospace menyebut menghabiskan sekitar 5 dolar AS atau sekitar Rp 80 Ribu.

"Pesawat komersial listrik berpotensi untuk secara fundamental mengubah ekonomi maskapai penerbangan dan, pada akhirnya, menurunkan biaya perjalanan udara bagi penumpang," kata Anders Forslund, Pendiri dan CEO Heart Aerospace.

Pengujian X1 tidak hanya berfokus pada kemampuan pesawat untuk terbang. Heart Aerospace juga mengumpulkan data mengenai kinerja baterai, motor listrik, sistem kelistrikan, aerodinamika, dan kontrol penerbangan.

X1 bukan pesawat yang akan digunakan untuk penerbangan komersial. Pesawat ini merupakan demonstrator teknologi berukuran penuh yang dibuat untuk menguji teknologi sebelum diterapkan pada pesawat produksi.

Hasil pengujian X1 akan digunakan dalam pengembangan ES-30, pesawat regional hibrida-listrik yang dikembangkan Heart Aerospace untuk penerbangan komersial. ES-30 dirancang untuk membawa hingga 30 penumpang. Berbeda dengan X1 yang menggunakan tenaga baterai dalam pengujian.

Heart memperkirakan ES-30 akan mengurangi biaya operasional pesawat lebih dari 40% dibanding dengan pesawat regional konvensional.

"Ini adalah inti dari visi kami untuk perjalanan udara yang berlimpah, dengan elektrifikasi yang memungkinkan layanan udara yang lebih terjangkau, sering, dan lebih bersih ke dan dari bandara yang lebih dekat dengan rumah,” ungkap Anders.

ES-30 akan menggunakan sistem propulsi hibrida-listrik. Heart Aerospace menargetkan ES-30 mulai beroperasi pada 2031 dan pengujian penerbangannya dijadwalkan dimulai pada 2028.

“Kami membawa kemampuan lengkap tersebut langsung ke ES-30, pesawat produksi pertama kami dan fondasi dari platform teknologi yang lebih luas untuk pesawat penumpang listrik,” kata Ben Stabler, Chief Technology Officer Heart Aerospace.


(Natasya Dwi Putri & Siti Nahdia Usman)

(Muhamad Marup)