Doa-Doa saat Gunung Meletus, Mohon Perlindungan dari Bahaya dan Musibah

Letusan gunung Anak Krakatau 2018. (Wikimedia Commons)

Doa-Doa saat Gunung Meletus, Mohon Perlindungan dari Bahaya dan Musibah

Riza Aslam Khaeron • 7 September 2026 07:00

 

Jakarta: Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali menunjukkan aktivitas vulkanik intens pada awal September 2026. Erupsi yang terjadi secara terus-menerus mulai teramati sejak Jumat, 4 September 2026 sekitar pukul 23.07 WIB, disertai suara gemuruh, dentuman, serta semburan material pijar.

Badan Geologi menyebut aktivitas tersebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava yang menghasilkan aliran lava. Rangkaian erupsi tipe Strombolian Anak Krakatau sendiri telah berlangsung sejak Juli 2026, dengan lontaran batu pijar dan abu vulkanik. Status gunung masih berada pada Level III atau Siaga.

Di tengah bencana seperti erupsi gunung api, masyarakat tetap harus mengutamakan langkah penyelamatan diri dan mengikuti arahan petugas. Dalam ajaran Islam, ikhtiar fisik tersebut dianjurkan untuk disertai dengan doa sebagai permohonan perlindungan kepada Allah SWT.

NU Online merangkum sejumlah doa dari kitab Al-Adzkar karya Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi. Doa-doa tersebut terbagi menjadi doa memohon perlindungan dari bahaya dan doa bagi orang yang telah tertimpa musibah.

Berikut doa-doa yang dapat dibaca ketika menghadapi bencana gunung meletus.
 

1. Doa Memohon Perlindungan dari Bahaya

Doa pertama berisi permohonan agar Allah memberikan perlindungan dari berbagai bentuk bahaya, mulai dari tertimpa reruntuhan, jatuh, tenggelam, hingga terbakar.



Allahumma inni audzubika minal hadmi wa audzubika minat taraddi wa audzubika minal gharaqi wal haraqi wal harami wa audzubika an yatakhabbathanisy syaithanu indal maut wa audzubika an amuta fi sabilika mudbiran wa audzubika an amuta ladighan.

Artinya: Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tertimpa reruntuhan, jatuh dari tempat tinggi, tenggelam, terbakar, dan kondisi tidak berdaya. Aku juga memohon perlindungan dari godaan setan ketika menghadapi kematian, meninggal dalam keadaan berpaling dari jalan-Mu, serta meninggal karena sengatan.

Doa tersebut diriwayatkan dalam Sunan Abu Dawud. Dalam Al-Adzkar, Imam An-Nawawi memasukkannya ke dalam doa-doa yang dianjurkan untuk dibaca kapan saja.

Dalam konteks gunung meletus, permohonan perlindungan dari reruntuhan dan kebakaran sangat relevan dengan bahaya erupsi, seperti longsoran material vulkanik, lontaran material panas, maupun bahaya lain yang menyertai bencana.
 

2. Doa agar Terhindar dari Bahaya

Selain doa di atas, terdapat doa pendek yang dianjurkan dibaca pada pagi dan petang untuk memohon perlindungan Allah SWT.



Bismillahil ladzi la yadlurru maasmihi syaiun fil ardli wa la fis sama-i wa huwas samiul alim.

Artinya: Dengan menyebut nama Allah, yang bersama nama-Nya tidak ada sesuatu pun di bumi maupun di langit yang dapat mendatangkan bahaya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

NU Online menjelaskan bahwa doa tersebut bersumber dari riwayat Sayyidina Utsman bin Affan dalam Sunan Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Doa ini dianjurkan dibaca tiga kali pada pagi dan petang sebagai permohonan perlindungan dari bahaya.
   

3. Doa ketika Sudah Tertimpa Musibah

Sementara itu, bagi seseorang yang mengalami kerugian atau penderitaan akibat bencana, Imam An-Nawawi mencantumkan doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika tertimpa musibah.



Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha.

Artinya: Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali. Ya Allah, berikanlah pahala atas musibah yang menimpaku dan gantikanlah bagiku dengan sesuatu yang lebih baik.

Doa tersebut bersumber dari hadis riwayat Muslim. Dalam Al-Adzkar, doa ini dianjurkan saat seseorang tertimpa musibah dengan harapan Allah SWT memberikan pahala serta mengganti kehilangan yang dialaminya dengan sesuatu yang lebih baik.

Doa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa segala sesuatu pada akhirnya akan kembali kepada Allah SWT, serta mengajarkan sikap untuk tetap optimis setelah menghadapi kehilangan akibat bencana.

Meski dianjurkan memperbanyak doa, masyarakat di sekitar gunung api tetap perlu menjalankan ikhtiar keselamatan secara nyata. Untuk Anak Krakatau, Badan Geologi meminta masyarakat, wisatawan, pendaki, nelayan, maupun pengguna kapal tidak memasuki radius tiga kilometer dari pusat aktivitas selama status Level III atau Siaga masih berlaku.

(Riza Aslam Khaeron)