Harga Minyak Naik, Tapi Masih di Bawah USD100

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Naik, Tapi Masih di Bawah USD100

Husen Miftahudin • 10 April 2026 08:42

Houston: Harga minyak dunia sedikit alami kenaikan pada perdagangan Asia pada Jumat, memperpanjang kenaikan moderat dari sesi sebelumnya, karena investor mempertimbangkan risiko pasokan yang terus berlanjut dari Timur Tengah menjelang pembicaraan Amerika Serikat (AS)-Iran akhir pekan ini.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 10 April 2026, harga minyak Brent berjangka sebagai patokan harga minyak internasional untuk kontrak beli atau jual Juni, naik 0,8 persen menjadi USD96,70 per barel.
 
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka sebagai standar untuk penetapan harga minyak di AS untuk masa mendatang, juga naik 0,7 persen menjadi USD98,52 per barel.
 
Kedua kontrak tersebut ditutup lebih tinggi pada perdagangan Kamis setelah sedikit mengalami penurunan, tetapi masih diperkirakan akan mengalami kerugian mingguan lebih dari 10 persen.
 
Adapun kenaikan harga minyak ini didukung oleh gangguan berkelanjutan terhadap arus pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global.
 

Baca juga: Harga Minyak Merosot di Bawah USD100/Barel


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

Harga mulai anjlok setelah pengumuman gencatan senjata

 
Awal pekan ini, harga minyak anjlok setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata selama dua minggu dengan Iran, yang bergantung pada pembukaan kembali Selat Hormuz, sehingga meningkatkan harapan akan dimulainya kembali aliran minyak yang terganggu.
 
Beberapa jam setelah gencatan senjata, Israel justru melancarkan serangan udara besar-besaran ke Lebanon, dengan alasan konfliknya dengan Hizbullah tidak tercakup dalam perjanjian tersebut.
 
Sebagai tanggapan, Iran kembali menghentikan lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz, dengan alasan tindakan Israel sebagai pelanggaran gencatan senjata. Israel mengatakan akan memulai negosiasi langsung dengan Lebanon sesegera mungkin, yang mengindikasikan potensi pembukaan jalur diplomatik.
 
Namun, sentimen investor tetap berhati-hati menjelang pembicaraan AS-Iran yang direncanakan akhir pekan ini, dengan pasar semakin sensitif terhadap berita utama seputar gencatan senjata yang rapuh dan prospek de-eskalasi.
 
Trump meningkatkan retorikanya terhadap Teheran, memperingatkannya agar tidak memungut biaya untuk kapal yang melintasi Selat Hormuz dan mengkritik Iran karena melakukan "pekerjaan yang buruk" dalam memungkinkan pasokan energi mengalir.
 
Lalu lintas kapal tanker melalui selat tersebut masih sangat terbatas, dengan adanya laporan penumpukan kapal dan cakupan asuransi yang terbatas semakin memperlambat pemulihan arus.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)