Ilustrasi, fasilitas produksi Lotte Chemical Indonesia. Foto: dok LCI.
Produsen Biji Plastik Prioritaskan Pasokan Domestik di Tengah Krisis
Husen Miftahudin • 8 April 2026 17:10
Jakarta: Produsen biji plastik, Lotte Chemical Indonesia (LCI) menyatakan akan menjaga stabilitas pasokan bagi industri hilir dan manufaktur nasional di tengah meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok global akibat eskalasi geopolitik di Timur Tengah.
Gangguan di kawasan Selat Hormuz telah berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan baku utama seperti nafta dan LPG yang juga menyebabkan krisis biji plastik di Indonesia per April 2026. Kondisi ini memicu lonjakan harga produk plastik hingga 30 persen sampai 70 persen.
Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia Cho Jin-Woo menegaskan pihaknya untuk menjaga keberlangsungan produksi dan memenuhi kebutuhan pelanggan.
LCI memprioritaskan alokasi persediaan produk dan kapasitas produksi yang tersedia saat ini sebagian besar untuk pasar domestik Indonesia. Distribusi pasokan dilakukan secara terukur guna menjaga stabilitas industri hilir nasional.
"Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri. LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional," jelas Cho dalam keterangan tertulis, Rabu, 8 April 2026.
| Baca juga: Kemenperin Pastikan Pasokan Bahan Baku Plastik Nasional Aman |

(Ilustrasi biji plastik. Foto: Primaplastindo.co.id)
Minta bantuan pemerintah atasi hambatan bahan baku
Sejalan dengan upaya tersebut, LCI juga melakukan penyesuaian operasional untuk menjaga keberlanjutan produksi. "LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada. Kami mengevaluasi setiap hari untuk memastikan situasi terkini yang transparan seiring berkembangnya kondisi," lanjut Cho.
Untuk mengatasi hal ini, LCI mencari dukungan strategis dari Pemerintah Indonesia, dengan mengidentifikasi setidaknya empat poin penting untuk intervensi, yakni penyederhanaan regulasi untuk mempercepat proses impor bahan baku, penerapan bea masuk nol persen untuk LPG sebagai bahan baku.
Kemudian bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan eksponensial dalam krisis rantai pasokan global ini. Juga bantuan untuk mengupayakan jalur keluar yang aman bagi kapal pengangkut bahan baku LCI yang saat ini tertahan di Selat Hormuz.
Cho juga menegaskan dukungan tersebut akan memberikan keamanan yang sangat penting, tidak hanya untuk situasi saat ini tetapi juga untuk industri domestik yang lebih luas di masa depan.
"Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah," tambah dia.