Ilustrasi. Foto: Dok MI
Kebijakan Tahan Harga BBM Upaya Jaga Daya Beli Masyarakat
Richard Alkhalik • 3 April 2026 14:41
Jakarta: Kenaikan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik, pelemahan nilai tukar rupiah, meningkatnya tekanan terhadap fiskal negara, serta perubahan pada neraca eksternal secara bersamaan mempersempit ruang kebijakan ekonomi.
Board of Experts Prasasti Center for Policy Studies Halim Alamsyah memperkirakan defisit fiskal melebar ke kisaran 3,3–3,5 persen dari PDB, melampaui batas defisit tiga persen yang selama ini dijaga pemerintah. Ini terjadi jika harga minyak sekitar USD100 per barel dan rupiah di kisaran Rp17.000 per USD.
Analisis Prasasti menunjukkan penyesuaian harga BBM berpotensi menambah sekitar 0,7 hingga 1,8 poin persentase terhadap inflasi, tergantung pada besaran dan waktu penyesuaian.
“Dalam skenario harga minyak tinggi yang berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga berpotensi melambat. Kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi dapat turun ke kisaran 4,7–4,9 persen, di bawah rata-rata pertumbuhan sekitar lima persen dalam beberapa tahun terakhir,” jelas Halim dalam keterangan tertulis, Jumat, 3 April 2026.
(1).jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Upaya menjaga daya beli masyarakat
Policy and Program Director Prasasti Piter Abdullah menilai kebijakan pemerintah saat ini merupakan upaya menjaga daya beli masyarakat dengan menahan kenaikan harga BBM. Di sisi lain, keberlanjutan kebijakan tersebut bergantung pada perkembangan harga minyak dunia.Menurut dia, koordinasi melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) menjadi krusial dalam situasi ketidakpastian global yang meningkat. Apabila kenaikan harga minyak berlangsung hingga akhir tahun, Piter menilai akan semakin sulit menahan harga BBM tidak naik.
“Oleh karena itu masyarakat dan pelaku bisnis perlu memahami penyesuaian harga energi dalam kondisi tertentu merupakan bagian dari respons kebijakan yang wajar, selama diikuti dengan kompensasi yang tepat sasaran,” tegas Piter.
Prasasti menilai pemerintah perlu merespons secara cepat berbagai potensi gangguan terhadap aktivitas industri yang dapat muncul akibat eskalasi geopolitik global. Gangguan terhadap pasokan energi maupun bahan baku industri berpotensi meningkatkan biaya produksi dan menekan produktivitas sektor manufaktur.