BMKG merilis pusat gempa yang terjadi di antara Provinsi Maluku Utara dan Sulawesi Utara. ANTARA/HO-BMKG
Gempa di Sulut-Malut Dipicu Fenomena Double Subduction
Silvana Febiari • 2 April 2026 15:00
Makassar: Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) mengungkapkan gempa bumi terjadi pada pukul 06.48 WITA di Laut Maluku. Peristiwa ini mencerminkan kompleksitas Zona Subduksi Ganda, atau Double Subduction.
"Berdasarkan analisis mekanisme sumber gempa (moment tensor) dari USGS dan BMKG, gempa ini diinterpretasikan sebagai sesar oblique-reverse (kombinasi sesar naik dan geser) yang terjadi di dalam lempeng (intraslab), bukan pada bidang kontak antarlempeng utama," kata Direktur PSG Ardy Arsyad, dilansir dari Antara, Kamis, 2 April 2026.
Menurut dia, kejadian ini sangat signifikan secara ilmiah karena lokasinya berada di kawasan Zona Subduksi Ganda Laut Maluku. Di area ini, dua lempeng samudera saling menghujam dari arah berlawanan, yaitu Sangihe dan Halmahera.
Kondisi ini, kata dia, menciptakan sistem tegangan yang kompleks. Gempa yang terjadi tidak selalu mengikuti pola klasik gempa subduksi atau megathrust.
Gempa di kedalaman sekitar 30 kilometer dan geometri bidang sesar yang relatif curam itu tidak berasal dari Sangihe Thrust (megathrust dangkal). Gempa ini mencerminkan deformasi internal dalam slab akibat interaksi dua sistem subduksi.
"Fenomena ini menunjukkan adanya pembagian tegangan (stress partitioning) dan dinamika deformasi yang kompleks di wilayah Indonesia timur," ungkapnya.
Meskipun gempa tersebut bukan gempa megathrust, kata ahli geoteknik dan dosen Teknik Sipil Universitas Hasanuddin ini menjelaskan, kejadian ini tetap memicu tsunami lokal berskala kecil di beberapa wilayah pesisir. Potensi tsunami tetap dapat muncul, meskipun dengan tingkat bahaya yang lebih terbatas dibandingkan gempa sesar naik dangkal.

Arsip - Direktur Lembaga Pusat Studi Gempa Sulawesi (PSGS) Ardy Arsyad, memberikan penjelasan terkait faktor penanganan gempa bumi di Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA/Darwin Fatir
Dari sisi kebencanaan, gempa dengan magnitudo besar seperti ini berpotensi menghasilkan guncangan kuat, terutama pada daerah dengan kondisi tanah lunak yang dapat mengalami amplifikasi gelombang seismik.
Selain itu, wilayah dengan sedimen jenuh air tetap memiliki potensi terhadap likuefaksi yang perlu diwaspadai. Oleh karena itu, PSGS menekankan masyarakat tidak perlu panik, namun tetap waspada terhadap gempa susulan serta mengikuti informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait
"Kami juga mengimbau pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi cepat terhadap infrastruktur kritis di wilayah terdampak. Meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat pesisir terhadap potensi tsunami lokal, dan memperkuat mitigasi berbasis peta risiko dan kondisi geologi setempat," tuturnya.
Ia memastikan PSGS akan terus melakukan analisis lanjutan terhadap kejadian ini. Analisis tersebut mencakup kaitannya dengan dinamika tektonik regional serta implikasinya terhadap risiko kebencanaan di Sulawesi dan sekitarnya.