Jejak drone yang melintas di udara. Foto: Anadolu
Serangan Drone Sasar Kedubes AS di Baghdad, Kompleks Diplomatik Terbakar
Fajar Nugraha • 18 March 2026 12:50
Baghdad: Kompleks Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Baghdad, Irak, menjadi sasaran serangan tiga drone bermuatan peledak.
Insiden tersebut memicu ledakan besar dan kebakaran di sekitar tembok luar fasilitas diplomatik tersebut. Berdasarkan laporan koresponden Anadolu, sistem pertahanan udara di dalam kompleks kedutaan berhasil mencegat dua drone di udara.
“Namun, satu drone ketiga berhasil menghantam dinding luar kedutaan dan memicu kobaran api di area sekitarnya,” sebut laporan Anadolu, Rabu 18 Maret 2026 tersebut.
Hingga saat ini, otoritas Irak belum memberikan komentar resmi terkait rincian kerusakan maupun korban jiwa.
Beberapa saat sebelum kebakaran terjadi, ledakan keras terdengar di seluruh penjuru ibu kota Irak, yang segera diikuti oleh aktivasi sistem pertahanan udara Kedubes AS.
Kelompok yang menamakan diri Perlawanan Islam di Irak mengeklaim telah meluncurkan 21 serangan roket dan drone dalam satu hari. Serangan tersebut menyasar berbagai pangkalan militer AS, baik yang berada di wilayah Irak maupun di kawasan sekitarnya.
Serangan terhadap aset diplomatik dan militer AS di Irak meningkat tajam sejak dimulainya ofensif gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Operasi militer tersebut dilaporkan telah menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
Sebagai bentuk balasan, Teheran secara intensif meluncurkan gelombang rudal dan drone ke berbagai titik strategis. Serangan diarahkan ke Israel serta pangkalan militer AS di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Selain menyebabkan kerusakan infrastruktur dan korban jiwa, eskalasi ini telah melumpuhkan jalur penerbangan internasional serta mengacaukan pasar ekonomi global.
Kondisi keamanan di Zona Hijau Baghdad saat ini dilaporkan masih dalam status siaga tinggi. Pasukan keamanan Irak telah memperketat penjagaan di seluruh akses menuju kompleks diplomatik asing guna mengantisipasi gelombang serangan susulan dari kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran di wilayah tersebut.
(Kelvin Yurcel)