Salat Idulfitri 2025 warga Bandung Barat. Foto: Metrotvnews.com/Roni Kurniawan
Ormas Persis Tetapkan Lebaran 2026 pada Sabtu 21 Maret
Arga Sumantri • 19 March 2026 14:38
Jakarta: Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis) telah menerbitkan keputusan Lebaran 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Persis menggunakan metode hisab imkan rukyat Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Menurut metode hisab imkan rukyat MABIMS posisi hilal/bulan pada Kamis (malam Jum'at) 29 Ramadan 1447 H/18 Maret 2026 posisi hilal sudah berada di atas ufuk di seluruh wilayah Indonesia. Namun, belum memenuhi kriteria ketampakan hilal atau visibilitas hilal/imkan rukyat MABIMS.
Berdasarkan data hisab, ijtimak menjelang bulan Syawal 1447 Hijriah terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 M pukul 08:23:26 WIB. Pada saat matahari terbenam diwilayah Indonesia, posisi Bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0° 53’ 58’ hingga 3° 07’ 15’’. Sementara itu, jarak elongasi Bulan–Matahari tercatat antara 4° 32’ 57’’ hingga 6° 06’ 39’’.
Walaupun ketinggian bulan sudah 3° namun Elongasi baru 6.1°. Belum mencapai 6.4°. Dengan demikian, bulan Ramadan 1447 H digenapkan 30 hari (istikmal).
"Persis menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah pada Sabtu, 21 Maret 2026," demikian keterangan resmi yang dikutip dari laman Persis, Kamis, 19 Maret 2026.
Awalnya, kriteria Imkanur Rukyat MABIMS menggunakan parameter ketinggian hilal 2°, elongasi 3°, atau umur bulan 8 jam. Saat ini, kriterianya menjadi Neo MABIMS dengan parameter tinggi bulan minimal 3° dan elongasi 6,4°.
"Perubahan ini dilakukan berdasarkan pertimbangan ilmiah," ujar Acep dikutip dari laman Persis.
Persis telah menggunakan parameter baru MABIMS sejak 2012. Pada saat itu, kriteria ini dikenal sebagai Kriteria Hisab Imkan Rukyat Astronomis (atau Kriteria LAPAN 2011), dengan parameter beda tinggi 4° (setara dengan tinggi hilal 3°) dan elongasi 6,4°.
Pemerintah disebut konsisten menggunakan kriteria baru MABIMS dalam empat tahun terakhir.
Berdasarkan data hisab, ijtimak menjelang 1 Syawal 1447 H terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026 pukul 08.23.26 WIB. Pada saat matahari terbenam di wilayah Indonesia, posisi bulan berada di atas ufuk dengan ketinggian antara 0° 53? 58? hingga 3° 07? 15?, dan elongasi antara 4° 32? 57? hingga 6° 06? 39?.
"Data ini menunjukkan bahwa kriteria Imkanur Rukyat Neo MABIMS belum terpenuhi. Dengan demikian, berdasarkan kriteria tersebut, 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2026," ungkap Acep.

Peta visibilitas hilal 1 Syawal 1447 Hijriah. Dok Persis
Potensi perbedaan
Organisasi Muhammadiyah menetapkan bahwa 1 Syawal 1447 H jatuh pada hari Jumat, 20 Maret 2026 dengan menggunakan Kriteria Hisab Global Tunggal (KHGT). Penetapan ini didasarkan pada pertimbangan bahwa pada 29 Ramadan 1447 H (18 Maret 2026 versi KHGT), ijtimak belum terjadi—dan baru terjadi pada tanggal 30 Ramadhan versi KHGT—serta kriteria imkan rukyat Turki (tinggi 5° dan elongasi 8°) belum terpenuhi di seluruh belahan bumi. Bulan Ramadan digenapkan menjadi 30 hari."Perbedaan ini tentu berpotensi menimbulkan perbincangan, bahkan perdebatan di kalangan umat Islam. Oleh karena itu, diperlukan sikap tasamuh (toleransi) di antara umat dalam menyikapi perbedaan penetapan Idul Fitri 1447 H, sehingga tidak menimbulkan kegaduhan yang tidak diharapkan," ujar Acep.
Terlepas dari adanya perbedaan tersebut, Persis berharap pemerintah konsisten dengan kriteria baru MABIMS, serta berpedoman pada Peraturan Menteri Agama Nomor 1 Tahun 2026 tentang Sidang Isbat, yang menyatakan bahwa apabila kriteria imkanur rukyat tidak terpenuhi, maka bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari.
"Berdasarkan kriteria Neo MABIMS dan ketentuan dalam Peraturan Menteri Agama tersebut, Pemerintah diharapkan menetapkan 1 Syawal 1447 H bertepatan dengan hari Sabtu, 21 Maret 2026," ungkap Acep.