Dua Eks PM Israel Bersatu untuk Lengserkan Netanyahu di Pemilu Mendatang

PM Israel Benjamin Netanyahu. (Anadolu Agency)

Dua Eks PM Israel Bersatu untuk Lengserkan Netanyahu di Pemilu Mendatang

Muhammad Reyhansyah • 27 April 2026 12:37

Tel Aviv: Dua tokoh politik senior Israel, Naftali Bennett dan Yair Lapid, pada Minggu, 26 April 2026, mengumumkan akan menggabungkan kekuatan dalam pemilihan umum akhir tahun ini untuk menggulingkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Bennett dan Lapid sebelumnya pernah menjabat sebagai perdana menteri melalui kesepakatan rotasi dalam pemerintahan koalisi yang mereka bentuk pada 2021, yang kala itu mengakhiri 12 tahun kekuasaan Netanyahu.

Mengutip The Korea Herald, Senin, 27 April 2026, kini keduanya berencana melebur partai masing-masing ke dalam satu faksi politik yang akan dipimpin Bennett, dan menggambarkan langkah itu sebagai kemitraan antara kubu tengah dan kanan.

Bennett menyatakan bahwa jika terpilih, pemerintahan baru akan membentuk komisi penyelidikan negara pada hari pertama untuk menyelidiki serangan 7 Oktober 2023 yang dipimpin Hamas di Israel selatan—isu yang terus membayangi Netanyahu.

Seruan untuk penyelidikan publik terhadap kegagalan yang mengitari serangan tersebut terus menguat di Israel, mengingat peristiwa itu menjadi serangan paling mematikan dalam sejarah negara tersebut.

Lapid juga mendesak kekuatan politik tengah di Israel untuk bersatu di belakang Bennett, dengan menyebut bahwa negara itu membutuhkan persatuan “seperti udara untuk bernapas.”

Pecahnya Koalisi

Dalam kesepakatan 2021, Bennett menjabat perdana menteri pada tahun pertama sebelum koalisi pecah. Lapid kemudian mengambil alih sebagai perdana menteri sementara selama enam bulan terakhir hingga pemilu mengembalikan Netanyahu ke tampuk kekuasaan.

Sejak saat itu, Lapid menjadi pemimpin oposisi, sementara Bennett sempat menjauh dari politik.

Meski memiliki perbedaan ideologi, di mana Bennett dikenal sebagai Yahudi Ortodoks dengan pandangan keras terhadap Palestina, sedangkan Lapid lebih sekuler dan dianggap moderat, keduanya menilai hubungan kerja mereka tetap solid.

“Kami telah melalui banyak hal bersama. Kami telah membuat keputusan-keputusan sulit bersama. Kami tahu kami bisa saling mengandalkan,” kata Lapid.

Aliansi ini diarahkan untuk menyatukan oposisi Israel yang selama ini terpecah dan nyaris tidak memiliki kesamaan selain penolakan bersama terhadap Netanyahu.

Baca juga:  Demonstrasi Besar Guncang Israel, PM Benjamin Netanyahu Didesak Mundur

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)