Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti (kanan) meninjau progres rehabilitasi dan rekonstruksi SD Negeri Utue di Kabupaten Pidie, Provinsi Aceh. Foto: ANTARA/HO-Humas Kemendikdasmen.
Rekonstruksi Sekolah Aceh Ditargetkan Rampung pada Tahun Ajaran Baru
Fachri Audhia Hafiez • 24 June 2026 09:16
Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menargetkan layanan pendidikan pascabencana hidrometeorologi di Aceh dapat berlangsung pada tahun ajaran 2026/2027. Upaya ini turut didukung pemerintah daerah dan TNI AD.
“Mudah-mudahan proses revitalisasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi dapat diselesaikan secepatnya. Sehingga anak-anak Aceh dapat kembali belajar secara optimal di sekolahnya,” ujar Mendikdasmen Abdul Mu’ti dalam pernyataan tertulis di Jakarta, dilansir Antara, Rabu, 24 Juni 2026.
Mu'ti menjelaskan, bagi sekolah-sekolah yang masih mengantre proses pembangunan fisik atau rencana relokasi, Kemendikdasmen telah mendirikan ruang kelas darurat yang representatif. Fasilitas sementara tersebut dihadirkan agar kegiatan belajar mengajar (KBM) tidak terputus dan tetap berjalan kondusif.
Salah satu titik fokus pemulihan adalah SD Negeri Utue. Sekolah yang berdiri sejak 1984 ini mengalami kerusakan parah pada bagian plafon, sistem drainase, ruang kelas, hingga fasilitas sanitasi akibat bencana.
Pada 2026, pemerintah mengucurkan anggaran sebesar Rp1,83 miliar. Anggaran ini khusus untuk merehabilitasi lima ruang kelas, ruang administrasi, ruang UKS baru, penataan lingkungan, serta pengadaan paket perabot penunjang di sekolah tersebut.
Komandan Pelaksana Rehabilitasi, Letkol Inf Arino Vranta Sinurat, mengungkapkan bahwa SD Negeri Utue merupakan bagian dari agenda besar pemulihan infrastruktur pendidikan di Serambi Mekah.
“Di Provinsi Aceh terdapat 190 sekolah yang direhabilitasi oleh TNI AD akibat dampak bencana hidrometeorologi. Khusus di SD Negeri Utue, kami mengerjakan tujuh ruang kelas, dua ruang administrasi, kamar mandi, pengadaan mebel, serta penataan lingkungan sekolah,” terang Arino.
Guna memastikan efektivitas di lapangan, pengerjaan fisik ini menerapkan pola swakelola tipe II dengan mengombinasikan keahlian tenaga profesional sipil dan kedisiplinan personel militer. Kerja sama taktis ini terbukti sukses mempercepat pembangunan tanpa harus mengorbankan waktu belajar para siswa di sekolah.
.jpg)
Ilustrasi pendidikan. Foto: Unsplash.com.
Kepala SD Negeri Utue, Suwarni, menyampaikan apresiasi mendalam atas metode pengerjaan bertahap yang diterapkan oleh tim gabungan. Langkah ini membuat pihak sekolah tidak perlu memindahkan atau merelokasi siswa ke tempat lain.
“Alhamdulillah, kami tidak perlu merelokasi siswa ke tempat lain. Pekerjaan dilakukan bertahap, sehingga ruang yang masih layak dapat digunakan untuk belajar. Guru dan TNI juga bersama-sama memastikan keamanan siswa selama proses pembangunan,” kata Suwarni.
Melalui sinergi kuat antara Kemendikdasmen, pemerintah daerah, dan TNI AD, proyek masif ini diharapkan tidak hanya sekadar memulihkan fisik bangunan yang hancur. Namun, mengembalikan ruang belajar yang aman, kokoh, dan nyaman bagi ribuan peserta didik pascabencana di Aceh.