Pemukim Ilegal Israel Serang Warga Palestina di Tepi Barat

Kendaraan warga Palestina yang diserang oleh pemukim Israel. Foto: Anadolu

Pemukim Ilegal Israel Serang Warga Palestina di Tepi Barat

Fajar Nugraha • 22 June 2026 12:53

Ramallah: Sekelompok pemukim ilegal Israel dilaporkan menyerang sejumlah kendaraan warga Palestina pada Minggu, 21 Juni, setelah memblokir jalan utama yang menghubungkan kota Jericho dan Ramallah di Tepi Barat yang diduduki.

Di saat yang sama, militer Israel bergerak untuk menghentikan pembangunan rumah dan fasilitas pertanian warga Palestina di dekat Bethlehem. Informasi tersebut dihimpun berdasarkan laporan media Palestina dan kesaksian warga di lokasi kejadian.

Kantor berita resmi Wafa melaporkan bahwa para pemukim ilegal tersebut menutup paksa jalan Muarrajat dan merusak beberapa kendaraan warga Palestina yang melintas. Aksi anarkistis ini menimbulkan kepanikan massal bagi warga Palestina yang menggunakan jalur transportasi tersebut setiap harinya.

Pihak kantor berita menambahkan bahwa serangan tersebut melumpuhkan arus lalu lintas di salah satu urat nadi transportasi utama yang menghubungkan wilayah tengah Tepi Barat dengan Lembah Yordan. Kawasan Muarrajat tercatat telah menjadi sasaran serangan berulang oleh kelompok pemukim Israel dalam beberapa pekan terakhir.

Pola serangan serupa meliputi penutupan jalan sepihak hingga penganiayaan terhadap pengendara Palestina, yang sering kali terjadi di bawah perlindungan langsung dari militer Israel.

Sementara itu, sejumlah saksi mata menyampaikan kepada Kantor Berita Anadolu bahwa militer Israel telah melayangkan surat pemberitahuan pembongkaran paksa yang menyasar sejumlah rumah dan fasilitas pertanian di desa Wadi Rahhal, sebelah selatan Bethlehem.

Otoritas militer Israel berdalih bahwa proyek-proyek bangunan tersebut tidak memiliki izin resmi. Berdasarkan kesaksian warga lokal, surat perintah pembongkaran tersebut menargetkan 10 unit rumah yang sedang dalam proses pembangunan, pengerjaan akhir pada satu rumah pribadi, serta dua unit ruang fasilitas pertanian.

Langkah koersif ini merupakan bagian dari kebijakan jangka panjang pemerintah Israel yang sengaja menyasar sektor pembangunan warga Palestina di sebagian besar wilayah Tepi Barat yang diduduki. Kebijakan ini menyasar wilayah Area C melalui aksi pembongkaran massal serta pengetatan izin bangunan di bawah dalih ketiadaan izin administrasi.

Merujuk pada Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Area A berada di bawah kendali penuh administrasi Palestina, sementara Area B berada di bawah kendali sipil Palestina namun otoritas keamanannya dipegang oleh Israel. Di sisi lain, Area C tetap berada di bawah kendali mutlak militer Israel dan mencakup sekitar 61 persen dari total luas wilayah Tepi Barat yang diduduki.

Berdasarkan data statistik resmi dari pihak Palestina, eskalasi militer Israel di Tepi Barat, termasuk di Yerusalem Timur, sejak Oktober 2023 lalu telah mengakibatkan 1.169 warga Palestina tewas dan 12.666 lainnya luka-luka. Selain itu, otoritas Israel juga telah menahan sedikitnya 23.000 orang dan menyebabkan 33.000 warga kehilangan tempat tinggal.

(Kelvin Yurcel)

(Fajar Nugraha)