BI Dorong Kemandirian Ekonomi RI di Tengah Perang Dagang dan Konflik Timur Tengah

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo. Foto: Tangkapan layar.

BI Dorong Kemandirian Ekonomi RI di Tengah Perang Dagang dan Konflik Timur Tengah

Husen Miftahudin • 22 June 2026 18:32

Jakarta: Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan perekonomian Indonesia perlu semakin mandiri di tengah tingginya ketidakpastian global. Situasi tersebut dipicu perang dagang dan konflik di Timur Tengah yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

"Dalam suatu ketidakpastian yang tinggi, kita harus semakin mandiri. Kita harus semakin mandiri. Apa pun yang terjadi di global, we have to move on," kata Perry dalam acara Kick Off Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu di Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 22 Juni 2026.

Perry menilai gejolak global merupakan faktor eksternal yang tidak dapat dikendalikan Indonesia. Karena itu, langkah yang paling realistis ialah memperkuat daya tahan ekonomi dalam negeri agar tetap tumbuh di tengah tekanan global.

"Kalau globalnya bergejolak, kita tidak bisa mengendalikan global. Yang bisa kita kendalikan adalah diri kita. Mari kita perkuat kekuatan kita," sebut dia.

Perry menjelaskan, salah satu langkah konkret untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional ialah melalui peluncuran Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu. Program tersebut resmi dimulai pada Senin, 22 Juni 2026.

Menurut dia, program itu dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional melalui pengembangan sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Saat ini, Indonesia memiliki lebih dari 65 juta UMKM yang sebagian besar berskala kecil dan menjadi tulang punggung penyerapan tenaga kerja nasional.
 

Baca juga: Purbaya: Ekonomi Indonesia Berhasil Lewati Tekanan Global


(UMKM. Foto: dok Metrotvnews.com)
 

UMKM jadi pilar pertumbuhan ekonomi


Perry menegaskan UMKM memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Ia juga menyoroti kontribusi besar perempuan dalam pengembangan UMKM. Menurut dia, penguatan sektor ini akan berdampak luas terhadap keberlanjutan ekonomi nasional.

"UMKM itu betul-betul pilar penting bagi pertumbuhan, kesejahteraan, kemudian dorongan untuk generasi yang akan datang," tegas Perry.

Perry menyebut Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam Bank Indonesia serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).

Program itu juga menjadi bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, terutama dalam memperkuat ekonomi kerakyatan. "Mari kita jadikan program ini sebagai bagian penting dari Asta Cita untuk ekonomi kerakyatan," ucap Perry.

Perry menekankan pengembangan UMKM tidak bisa dilakukan oleh satu lembaga saja. Menurutnya, dibutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, BI, dan berbagai pemangku kepentingan agar penguatan UMKM berjalan optimal.

Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu, lanjut dia, menjadi bukti komitmen bersama untuk meningkatkan kapasitas UMKM melalui pelatihan kewirausahaan dan pengembangan usaha yang lebih maju.

"Program ini adalah bentuk nyata komitmen kita bersama. Komitmen kita bersama: bersatu kita teguh dan bersatu kita maju, dan semakin sukses," jelas Perry.

(Husen Miftahudin)