Putra Pemimpin Hamas Terluka Parah dalam Serangan Udara Israel di Gaza

Kelompok pejuang Hamas yang menguasai Gaza. Foto: Anadolu

Putra Pemimpin Hamas Terluka Parah dalam Serangan Udara Israel di Gaza

Dimas Chairullah • 7 May 2026 16:24

Gaza: Azzam al-Hayya, putra dari pemimpin senior Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, dilaporkan mengalami luka serius akibat serangan udara mematikan yang dilancarkan Israel di Kota Gaza.

Dalam keterangannya, kelompok Palestina tersebut menyebutkan bahwa serangan yang menghantam kawasan lingkungan Daraj itu turut menewaskan satu orang bernama Hamza al-Sharbasi. 

Sementara itu, Azzam bersama beberapa warga sipil lainnya menderita luka parah dalam insiden berdarah tersebut, sebagaimana dikutip dari laporan TRT World, Kamis, 7 Mei 2026.

Menanggapi gempuran yang menargetkan keluarganya, Khalil al-Hayya mengecam keras tindakan tersebut dan menggambarkannya sebagai "perpanjangan agresi Israel terhadap rakyat kami di mana-mana". Ia menuding serangan ini adalah taktik untuk menekan para negosiator Palestina melalui jalur "pembunuhan, teror, dan intimidasi."

Lebih lanjut, Al-Hayya menilai pesan politik di balik agresi tersebut sangat jelas, yakni untuk memberi sinyal bahwa para pemimpin Palestina maupun anak-anak mereka tidak ada yang kebal dari target sasaran mematikan militer Israel. 

Ia menambahkan bahwa "pembunuhan telah menjadi kejadian sehari-hari di bawah kebijakan intimidasi yang sistematis."

Hanya selang beberapa jam sebelum insiden tersebut, lima warga Palestina, termasuk seorang perwira polisi, tewas dalam rentetan serangan Israel lainnya yang menargetkan kerumunan warga sipil dan sebuah kendaraan aparat.

Petugas medis mengonfirmasi bahwa Naseem al-Kalazani, seorang kolonel di kesatuan polisi yang dikelola Hamas, tewas seketika ketika kendaraannya dihantam gempuran di dekat daerah Al-Mawasi, Khan Younis.

Hamas menuduh Israel terus meningkatkan eskalasi serangan yang secara terang-terangan melanggar perjanjian gencatan senjata Sharm el-Sheikh. Kesepakatan itu diketahui telah ditandatangani pada Oktober 2025 dan mulai berlaku efektif pada 10 Oktober.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza, Israel terus melakukan pelanggaran harian terhadap perjanjian tersebut, yang hingga kini telah mengakibatkan 837 warga Palestina tewas dan melukai 2.381 orang lainnya. Gencatan senjata ini sejatinya merupakan jeda dari perang mematikan selama dua tahun yang dimulai pada 8 Oktober 2023.

Agresi brutal tersebut dilaporkan telah merenggut nyawa lebih dari 72.000 warga Palestina dan meluluhlantakkan hingga 90 persen infrastruktur sipil di wilayah kantong tersebut.

Di tengah situasi yang kian mengkhawatirkan, Al-Hayya mendesak Amerika Serikat dan negara-negara yang bertindak sebagai mediator untuk segera turun tangan. Mereka dituntut untuk memberikan tekanan kuat kepada Israel agar mematuhi perjanjian gencatan senjata serta menghentikan seluruh operasi militer.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)