Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com
Pasar Modal Indonesia Dipastikan Tetap Likuid di Tengah Volatilitas Global
Husen Miftahudin • 5 May 2026 17:41
Jakarta: Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memastikan resiliensi dan likuiditas pasar modal Indonesia tetap terjaga dengan baik, di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan akibat ketidakpastian konflik geopolitik di tingkat global.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan, kinerja tersebut tercermin dari rata-rata spread bid-ask saham yang tetap rendah di level 1,33 kali pada April 2026, menunjukkan likuiditas pasar tetap terjaga.
"Di tengah dinamika tersebut, resiliensi dan likuiditas pasar modal domestik secara keseluruhan tetap terjaga dengan baik," ujar Hasan dalam Konferensi Pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) April 2026 secara daring di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa, 5 Mei 2026.
Dia mengungkapkan, kinerja pasar obligasi juga menunjukkan penguatan, tercermin dari Indonesia Composite Bond Index (ICBI) yang naik 0,74 persen year on year (yoy) ke level 436,38 pada April 2026.
Adapun, penguatan tersebut didukung oleh penurunan rata-rata yield Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 3,9 basis poin. "Investor non-residen juga mencatatkan net buy sebesar Rp8,8 triliun di pasar SBN secara month-to-date hingga 29 April 2026," ungkap Hasan.
Dari industri pengelolaan investasi, nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana tercatat senilai Rp711,89 triliun, atau tumbuh 2,32 persen month to month (mtm) dan 5,41 persen year to date (ytd).
Pertumbuhan tersebut didorong oleh net subscription sebesar Rp8,11 triliun sepanjang April 2026, dan senilai Rp37,24 triliun semenjak awal 2026.
| Baca juga: Meski Stabilitas Jasa Keuangan Terjaga, OJK Masih 'Pelototi' Fluktuasi Pasar |

(RDKB OJK April 2026. Foto: dok OJK)
Pasar modal berperan sebagai sumber pembiayaan
Tidak hanya itu, Hasan memastikan pasar modal Indonesia tetap berperan sebagai sumber pembiayaan jangka panjang, yang mana nilai penghimpunan dana (fundraising) korporasi mencapai Rp56,35 triliun, dengan 71 rencana penawaran umum dalam pipeline perizinan OJK per April 2026.
Sementara itu, penghimpunan dana melalui securities crowdfunding (SCF) tercatat sebesar Rp1,93 triliun per April 2026.
Dari pasar derivatif keuangan, volume transaksi kumulatif mencapai 143.217 lot. Sementara, Bursa Karbon (IDXCarbon) mencatat 155 pengguna jasa dengan total volume transaksi 1,98 juta ton CO2 ekuivalen dengan nilai transaksi Rp93,75 miliar.
Sepanjang April 2026, jumlah investor pasar modal Indonesia bertambah signifikan 1,74 juta investor baru sehingga total menjadi 26,49 juta investor, atau tumbuh 30,06 persen (ytd).