Menag: Borobudur Sumber Nilai Spiritual yang Hidup

Menteri Agama Nasaruddin Umar. Foto: Antara.

Menag: Borobudur Sumber Nilai Spiritual yang Hidup

Anggi Tondi Martaon • 6 May 2026 21:16

Jakarta: Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan Candi Borobudur tidak hanya merupakan warisan budaya dunia. Tapi juga sumber nilai spiritual yang hidup (living spiritual heritage) yang relevan untuk memperkuat karakter dan harmoni masyarakat.

“Borobudur bukan sekadar bangunan batu yang berdiri kokoh, melainkan sebuah ‘kitab yang dipahat’. Setiap reliefnya mengajak kita untuk merenung, melihat ke dalam diri, dan menapaki jalan menuju kebijaksanaan,” ujar Nasaruddin dalam Roadshow Lokakarya Borobudur Sambut Waisak dikutip dari Antara, Rabu, 6 Mei 2026.

Menag mengatakan Borobudur perlu dimaknai lebih dari sekadar bangunan fisik. Salah satu monumen Buddha terbesar di dunia itu juga dinilai sebagai representasi perjalanan batin manusia menuju kebijaksanaan.

Ia menekankan nilai-nilai yang terkandung dalam Borobudur mencerminkan ajaran universal tentang pengendalian diri, kebijaksanaan, dan keseimbangan hidup yang tetap relevan dalam menghadapi dinamika zaman.

“Tema Reinterpreting Borobudur bukan sekadar kajian akademik, tetapi juga panggilan untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur agar hadir nyata dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap Nasaruddin.

Imam Besar Masjid Istiqlal  itu juga menekankan pentingnya menjaga kesakralan situs keagamaan sebagai ruang refleksi spiritual. Menurut Nasaruddin, setiap agama memiliki konsep ruang dan waktu sakral yang perlu dihormati bersama sebagai bagian dari etika keberagamaan.

“Tempat ibadah adalah ruang perjumpaan batin antara manusia dengan Tuhan. Di sanalah ketenangan, kebijaksanaan, dan kesadaran diri tumbuh. Oleh karena itu, menjaga etika dan penghormatan terhadap ruang-ruang sakral menjadi tanggung jawab bersama,” sebut Nasaruddin.

Nasaruddin mengajak masyarakat menjadikan Borobudur sebagai sumber inspirasi dalam pembangunan karakter bangsa. Nilai kebijaksanaan, keseimbangan, dan kasih sayang yang tercermin di dalamnya dinilai penting sebagai fondasi kehidupan yang beradab dan harmonis.

Candi Borobudur. Foto: Istimewa.

"Nilai-nilai tersebut perlu terus dihidupkan agar menjadi pedoman dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang inklusif dan damai,” ujar Nasaruddin.

Dalam konteks pelestarian, Menag menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar Borobudur tidak hanya terjaga secara fisik, tetapi juga tetap hidup secara makna.

“Warisan besar seperti Borobudur akan terus bermakna jika dijaga bersama, melalui sinergi pemerintah, masyarakat, akademisi, dan tokoh agama. Dengan begitu, nilai-nilainya dapat terus memberi manfaat bagi generasi kini dan mendatang,” kata Nasaruddin.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)