Surabaya Pertahankan Predikat Kota Layak Anak Berkat Inovasi Digital

Ilustrasi. (Pexels)

Surabaya Pertahankan Predikat Kota Layak Anak Berkat Inovasi Digital

Amaluddin • 21 July 2026 14:08

Surabaya: Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen memenuhi hak-hak anak melalui berbagai inovasi. Upaya tersebut mencakup layanan administrasi kependudukan sejak kelahiran, sistem digital berbasis data, pendidikan inklusif, perlindungan anak, hingga pelibatan anak dalam pembangunan.

Langkah tersebut turut mengantarkan Kota Pahlawan meraih penghargaan Kota Layak Anak (KLA) kategori Utama dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA). Predikat ini menunjukkan pembangunan Surabaya tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga menjadikan anak sebagai bagian penting dalam kebijakan kota.

"Kami melibatkan berbagai perangkat daerah, untuk memastikan hak anak terpenuhi secara menyeluruh, mulai dari hak sipil, kesehatan, pendidikan, perlindungan, hingga hak berpartisipasi," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3APPKB) Kota Surabaya, Ida Widyati, Selasa, 21 Juli 2026.
 


Ida mengatakan keberhasilan mempertahankan predikat Kota Layak Anak merupakan hasil kerja kolaboratif lintas sektor, yang telah dibangun secara berkelanjutan. "Sehingga semua perangkat daerah memiliki tanggung jawab yang sama sehingga seluruh program pembangunan harus berpihak pada kepentingan terbaik bagi anak," ucap Ida.

Menurutnya, pendekatan tersebut membuat perlindungan dan pemenuhan hak anak terintegrasi dalam setiap kebijakan pemerintah, bukan hanya menjadi program sektoral satu organisasi perangkat daerah. Salah satu inovasi unggulan Pemkot Surabaya adalah Sistem Informasi Kota Layak Anak Surabaya (SITALAS).

Platform digital ini menjadi pusat data terpadu terkait kondisi anak, mulai dari kesehatan, pendidikan, perlindungan khusus, hingga partisipasi dalam pembangunan. Melalui SITALAS, pemerintah dapat memetakan kebutuhan anak lebih akurat, menyusun program yang tepat sasaran, serta memantau capaian Kota Layak Anak secara berkelanjutan.

"SITALAS membantu kami memastikan setiap kebijakan benar-benar berbasis data sehingga kebutuhan anak di setiap wilayah dapat dipetakan dengan lebih akurat," ujar Ida.

Tak hanya mengandalkan teknologi, Pemkot Surabaya juga memastikan pemenuhan hak anak dimulai sejak awal kehidupan. Bayi yang lahir di fasilitas kesehatan mendapat layanan administrasi kependudukan terintegrasi, mulai dari penerbitan akta kelahiran, pembaruan Kartu Keluarga, hingga Kartu Identitas Anak (KIA), sehingga hak sipil anak terpenuhi sejak dini.

Di sektor kesehatan, Pemkot Surabaya terus memperkuat berbagai layanan bagi anak melalui posyandu, puskesmas ramah anak, imunisasi lengkap, pencegahan dan penanganan stunting, pemeriksaan kesehatan berkala, hingga layanan kesehatan jiwa bagi anak dan remaja.


Ilustrasi. (Pexels)


Sementara di bidang pendidikan, Pemkot Surabaya terus mengembangkan sekolah ramah anak dengan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas perundungan. Pemerintah juga memperluas akses pendidikan melalui beasiswa bagi keluarga kurang mampu, bantuan perlengkapan sekolah, pendampingan psikologis, hingga layanan pendidikan inklusif bagi anak berkebutuhan khusus.

Perlindungan anak juga diperkuat melalui kolaborasi DP3APPKB, Dinas Sosial, kepolisian, rumah sakit, psikolog, serta lembaga layanan lainnya. Sinergi ini menghadirkan pendampingan bagi anak yang berhadapan dengan hukum, korban kekerasan, eksploitasi, maupun anak yang membutuhkan perlindungan khusus.

Inovasi lain yang menjadi kekuatan Surabaya adalah pelibatan anak dalam pembangunan melalui Forum Anak Surabaya. Forum ini menjadi wadah bagi anak untuk menyampaikan aspirasi, gagasan, serta berbagai persoalan yang mereka hadapi di lingkungan sekolah maupun tempat tinggal.

Masukan dari Forum Anak kemudian menjadi salah satu pertimbangan dalam penyusunan kebijakan pemerintah agar semakin responsif terhadap kebutuhan anak. "Kami ingin anak tidak hanya menjadi objek pembangunan, tetapi juga menjadi subjek yang ikut memberikan masukan terhadap kebijakan pemerintah," tutur Ida.

Selain itu, Ida mengatakan Pemkot Surabaya terus memperluas ruang publik ramah anak melalui pembangunan taman kota, ruang bermain, perpustakaan, fasilitas olahraga, hingga Kampung Ramah Anak yang dikelola bersama masyarakat. 

Program tersebut juga diperkuat melalui edukasi pengasuhan bagi orang tua, perlindungan anak berbasis masyarakat, serta peningkatan kapasitas kader di tingkat kelurahan dan kecamatan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Ida menegaskan, keberhasilan Surabaya mempertahankan predikat Kota Layak Anak tidak lepas dari kolaborasi berbagai pihak. Selain pemerintah, dunia usaha melalui program CSR, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, media, hingga komunitas anak turut berperan menciptakan lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan mendukung tumbuh kembang anak.

"Penghargaan Kota Layak Anak menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi. Yang paling penting bukan penghargaan itu sendiri, tetapi bagaimana seluruh anak di Surabaya benar-benar mendapatkan haknya untuk hidup, tumbuh, berkembang, terlindungi, dan berpartisipasi secara optimal," ungkap Ida.

(Silvana Febiari)