IYDF 2026 Soroti Peran Generasi Muda dalam Menjaga Demokrasi Indonesia

Pendiri FPCI Dino Patti Djalal dalam acara IYDF di Jakarta, Rabu, 22 Juli 2026. (Metrotvnews.com / Muhammad Reyhansyah)

IYDF 2026 Soroti Peran Generasi Muda dalam Menjaga Demokrasi Indonesia

Willy Haryono • 22 July 2026 14:28

Jakarta: Pendiri dan Ketua Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Dino Patti Djalal, mengajak generasi muda memperkuat komitmen terhadap demokrasi di tengah meningkatnya ancaman kemunduran demokrasi dan polarisasi politik di berbagai negara.

Pesan tersebut disampaikan dalam pembukaan Indonesia Youth Democracy Forum (IYDF) 2026 yang mengusung tema Next Generation Civic Leadership and Democratic Resilience. Forum hasil kolaborasi FPCI dan Konrad Adenauer Stiftung (KAS) Indonesia itu bertujuan menyiapkan pemimpin muda yang mampu menjaga ketahanan demokrasi Indonesia.

Menurut Dino, sebagian besar generasi Indonesia yang kini berusia di bawah 30 hingga 40 tahun tidak pernah mengalami kehidupan di bawah pemerintahan otoriter sebelum Reformasi 1998. Karena itu, ia menilai penting bagi generasi muda untuk memiliki rasa kepemilikan terhadap demokrasi agar tidak menganggap kebebasan yang dinikmati saat ini sebagai sesuatu yang otomatis akan selalu ada.

"Tujuan dari proyek ini adalah untuk membuat generasi sekarang memiliki kepemilikan atas demokrasi. Kepemilikan berarti mereka menghargai, menghormati, dan menjadikan demokrasi sebagai bagian dari DNA kita," kata Dino.

Ia menegaskan demokrasi bukanlah sistem yang dapat bertahan dengan sendirinya. Menurutnya, bahkan negara dengan tradisi demokrasi yang kuat pun tetap dapat mengalami kemunduran. Dino mencontohkan Amerika Serikat yang pernah menyaksikan gedung parlemennya diserang oleh warganya sendiri.

Direktur KAS Indonesia, Jan Senkyr, menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan demokrasi di berbagai belahan dunia tengah menghadapi tantangan berupa polarisasi politik, menurunnya kepercayaan publik terhadap institusi politik, serta maraknya penyebaran disinformasi di era digital.

Mengacu pada pengalaman Jerman pasca-Perang Dunia II, Senkyr mengingatkan bahwa rezim Nazi memperoleh kekuasaan melalui proses pemilu dalam sistem demokrasi, bukan melalui kudeta.

Nilai-nilai Demokrasi

"Pelajaran yang dapat diambil adalah demokrasi tidak dapat bertahan tanpa para demokrat. Masyarakat harus memahami, mendukung nilai-nilai demokrasi, dan terlibat dalam kehidupan politik," ujarnya.

Senkyr menambahkan tidak ada seseorang yang terlahir sebagai demokrat. Nilai-nilai demokrasi, menurutnya, harus dibangun melalui pendidikan, pengalaman, dan pelatihan yang berkelanjutan.

Meski menghadapi berbagai tantangan global, ia menilai Indonesia telah menunjukkan ketahanan sebagai negara demokrasi yang mampu menjaga stabilitas di tengah masyarakat yang majemuk. Namun, demokrasi tetap harus diperkuat melalui dialog yang sehat dan kepemimpinan yang bertanggung jawab.

Dalam kesempatan itu, Dino juga mengingatkan pentingnya menjaga etika dalam berpolitik. Ia mengajak generasi muda meneladani rivalitas sportif antara legenda tenis dunia Rafael Nadal dan Roger Federer yang tetap saling menghormati meski bersaing di lapangan.

"Mereka bertanding dan menang masing-masing, tetapi mereka saling menghormati dan merangkul satu sama lain. Inilah semangat yang ingin saya lihat dari anak muda: Anda memiliki gagasan yang berbeda dan bebas berbicara, tetapi Anda tetap saling merangkul," ujarnya.

IYDF 2026 merupakan penyelenggaraan keempat forum tahunan hasil kerja sama FPCI dan KAS Indonesia. Program ini diikuti 20 pemimpin muda dari berbagai provinsi dengan latar belakang beragam, mulai dari partai politik hingga organisasi masyarakat sipil, untuk mengikuti diskusi intensif mengenai kepemimpinan, demokrasi, dan masa depan Indonesia. (Kelvin Yurcel)

Baca juga:  Tekanan Struktural Ancam Peran Masyarakat Sipil sebagai Penopang Demokrasi

(Willy Haryono)