Karhutla di Kapuas Capai 305 Hektare, 22 Hotspot Terpantau

Petugas dari BPBD Kabupaten Kapuas, melakukan pemadaman karhutla di wilayah setempat, Senin (20/7/2026).ANTARA/HO-BPBD Kapuas

Karhutla di Kapuas Capai 305 Hektare, 22 Hotspot Terpantau

Lukman Diah Sari • 23 July 2026 20:22

Kuala Kapuas: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kapuas menyebutkan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah tersebut mencapai 305,51 hektare. Angka ini menempatkan Kapuas di urutan keempat untuk luasan karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

"Ini berdasarkan analisis citra tim hitung luas Kementerian Kehutanan, periode Januari hingga Juni 2026,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Kapuas, Pangeran S. Pandingan, di Kuala Kapuas, Kamis, 23 Juli 2026, melansir Antara.

Berikut rincian data luas lahan yang terbakar di sejumlah kabupaten/kota di Kalteng:

  1. Kabupaten Sukamara: 1.254,52 hektare
  2. Kabupaten Katingan: 468,77 hektare
  3. Kabupaten Kotawaringin Timur: 358,34 hektare
  4. Kabupaten Seruyan: 178,99 hektare
  5. Kabupaten Barito Selatan: 136,76 hektare
  6. Kabupaten Barito Utara: 119,53 hektare
  7. Kabupaten Lamandau: 80,93 hektare
  8. Kabupaten Gunung Mas: 77,11 hektare
  9. Kabupaten Kotawaringin Barat: 31,61 hektare
  10. Kota Palangka Raya: 31,58 hektare
  11. Kabupaten Pulang Pisau: 13,04 hektare
  12. Kabupaten Barito Timur: 12,82 hektare
  13. Kabupaten Murung Raya: 0 hektare
Sementara itu, berdasarkan data harian Pos Komando Penanganan Darurat Bencana (Posko PDB) Karhutla BPB-PK Provinsi Kalteng per Selasa, 21 Juli 2026, pukul 18.00 WIB, terpantau 117 titik panas (hotspot) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di Kalteng. Pada periode yang sama, tercatat pula 30 kejadian karhutla dengan total luas lahan terbakar mencapai 27,09 hektare.

Kabupaten Kapuas menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 22 titik. Disusul Lamandau (21 titik), Pulang Pisau (17 titik), Sukamara (15 titik), Kotawaringin Timur (10 titik), Barito Selatan (8 titik), dan Gunung Mas (6 titik). Kemudian, Kotawaringin Barat, Seruyan, dan Kota Palangka Raya masing-masing 5 titik, Barito Utara 2 titik, serta Katingan 1 titik. Hanya Kabupaten Murung Raya dan Barito Timur yang tidak terpantau adanya hotspot. Dalam upaya deteksi dini menekan potensi meluasnya kebakaran selama musim kemarau, pihak BPBD terus memperkuat patroli terpadu di beberapa wilayah rawan karhutla.

"Patroli terpadu kami lakukan setiap hari untuk memantau wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi terjadi kebakaran. Begitu ditemukan hotspot atau indikasi titik api, tim di lapangan langsung melakukan pengecekan dan penanganan, agar api tidak meluas," ujar Pangeran.

Tim gabungan Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri atas BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha, melakukan pemadaman di sekitar pusat rehabilitasi orangutan YIARI. (ANTARA/HO-YIARI Kalbar)

Menurutnya, kecepatan respons di lapangan menjadi faktor penting dalam pengendalian karhutla. Semakin cepat titik api ditemukan, makin besar peluang kebakaran dapat dipadamkan sebelum meluas dan menimbulkan dampak besar.

Pangeran juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, terutama di kawasan yang rawan terbakar.

"Partisipasi masyarakat sangat penting dalam pencegahan karhutla. Apabila menemukan titik api maupun kepulan asap, segera laporkan kepada petugas agar dapat segera ditindaklanjuti. Pencegahan tetap menjadi langkah yang paling efektif dalam menghadapi musim kemarau," jelas Pangeran.

(Lukman Diah Sari)