Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Kalbar Terancam Karhutla

Tim gabungan Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri atas BNPB, BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha, melakukan pemadaman di sekitar pusat rehabilitasi orangutan YIARI. (ANTARA/HO-YIARI Kalbar)

Pusat Rehabilitasi Orang Utan di Kalbar Terancam Karhutla

Silvana Febiari • 23 July 2026 16:38

Pontianak: Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mengancam kawasan Pusat Rehabilitasi orang utan YIARI di Ketapang, Kalimantan Barat (Kalbar). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengerahkan operasi water bombing untuk mempercepat pemadaman.

"Kebakaran terdeteksi pada 22 Juli 2024 di Jalan Ketapang-Tanjungpura KM 5, Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Delta Pawan, atau sekitar satu kilometer dari pusat rehabilitasi orang utan YIARI," kata Direktur Operasional Program YIARI Argitoe Ranting, dilansir dari Antara, Kamis, 23 Juli 2026. 

Tim gabungan Satgas Karhutla Kabupaten Ketapang yang terdiri atas BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Manggala Agni, TNI, Polri, serta didukung YIARI dan PT MoPaKha, hingga kini masih melakukan pemadaman dan pemantauan di lokasi.
 


Berdasarkan pemantauan sementara, kebakaran tersebut berdampak pada lahan seluas sekitar 15 hektare. Namun, pendataan luas area terdampak masih terus dilakukan tim di lapangan.

Untuk menjangkau titik api yang sulit diakses melalui jalur darat, BNPB mengerahkan helikopter water bombing di sejumlah lokasi. Tujuannya untuk mencegah api meluas ke fasilitas rehabilitasi dan kawasan hutan di sekitarnya.

Argito mengatakan keselamatan orang utan dan satwa lain di pusat rehabilitasi menjadi prioritas utama. Seluruh satwa dipastikan dalam kondisi aman dan terus dipantau oleh tim dokter hewan serta animal keeper.

"Sejak kebakaran terdeteksi, seluruh tim bergerak cepat menjalankan prosedur tanggap darurat untuk memastikan orang utan dan satwa lainnya tetap aman, sekaligus mendukung upaya pengendalian api di sekitar kawasan," tuturnya.

Selain itu, karhutla berpotensi menurunkan kualitas udara dan mengganggu ekosistem hutan. Kondisi cuaca kering dan angin yang cukup kuat meningkatkan risiko api menyebar lebih luas.


Ilustrasi kebakaran hutan. (Medcom.id)


Dokter Spesialis Mikrobiologi Simon Yosonegoro Liem mengatakan asap karhutla juga dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan.

"Paparan asap dapat menyebabkan iritasi mata, hidung, dan tenggorokan, memperburuk gangguan pernapasan, serta meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA)," paparnya.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi mengatakan penanganan karhutla di sekitar pusat rehabilitasi orang utan merupakan bentuk komitmen bersama untuk melindungi hutan, satwa liar, dan keselamatan masyarakat.

"Kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta segera melaporkan setiap indikasi kebakaran agar dapat ditangani sedini mungkin," ujarnya.

Tim gabungan mengimbau masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan titik api kepada pihak berwenang. Langkah cepat diperlukan untuk mencegah kebakaran meluas serta meminimalkan dampaknya terhadap lingkungan dan satwa liar.

(Silvana Febiari)