Presiden Kelima Ungkap Makna Kesabaran Revolusioner di Monumen Kudatuli

Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli. Foto: Dok. Antara.

Presiden Kelima Ungkap Makna Kesabaran Revolusioner di Monumen Kudatuli

Fachri Audhia Hafiez • 27 July 2026 19:26

Jakarta: Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli di halaman Kantor DPP PDIP, Jalan Diponegoro Nomor 58, Menteng, Jakarta Pusat. Peresmian ini sebagai puncak peringatan 30 tahun insiden berdarah 27 Juli 1996.

"Dengan mengucapkan bismillahirrahmanirrahim, Monumen Kudatuli ini atau peristiwa 27 Juli pada 30 tahun yang lalu, saya resmikan," kata Megawati saat memimpin peresmian di Kantor DPP PDIP, Jakarta, dilansir Antara, Senin, 27 Juli 2026.
 


Didampingi putranya yang juga Ketua DPP PDIP, M. Prananda Prabowo, Megawati secara simbolis memencet tombol peresmian Monumen Peristiwa Kudatuli. Kain hitam yang menutupi monumen pun dibuka, menampilkan karya yang menggambarkan sosok perempuan sedang memeluk lima sosok yang menunduk. 

Mengenakan pakaian berwarna hitam, Megawati menyampaikan pesan, khususnya untuk generasi muda. Ia menekankan agar terus memegang semangat perjuangan.

"Namanya Republik Indonesia ini dibangun dengan yang namanya air mata, darah, dan keringat! Camkan!" tegas Megawati.

Megawati menyampaikan apresiasi secara khusus kepada pematung karya tersebut. Monumen itu disebut lahir dari proses kontemplasi dan perenungan mendalam, bukan sekadar batu dan logam.

"Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada seniwati yang saya kenal dan pandai. Saya memanggilnya Mbak Dolorosa Sinaga, yang telah menggambarkan dengan baik terhadap apa yang saya kontemplasikan selama ini," ujar Megawati.

Ia menjelaskan bahwa monumen itu merupakan wujud dari "kesabaran revolusioner". Penggambaran ini berlandaskan keyakinan, keteguhan, dan keberanian.

"Dalam kontemplasi saya, saya melihat kehidupan saya sendiri yang saya serangkum menjadi sebuah kata-kata, bahwa kita kalau yakin dalam kehidupan dan setelah itu tahu untuk apa kita punya keyakinan, maka harus punya keteguhan dan keberanian. Setelah itu, di dalam menjalankannya, kita tidak pernah boleh putus asa. Oleh sebab itu, kita harus punya kesabaran revolusioner," jelas Megawati.


Presiden kelima RI sekaligus Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP), Megawati Soekarnoputri, meresmikan Monumen Peristiwa Kudatuli. Foto: Dok. Antara.

Megawati menegaskan pentingnya prinsip kesabaran revolusioner tersebut dalam kehidupan berbangsa. Prinsip itu akan menyatu pada satu prinsip dasar.

"Kesemuanya yang empat itu menyatu dalam sebuah keyakinan yang kental, bahwa kebenaran pada akhirnya akan menang," kata Megawati.

Megawati turut mengutip ajaran Siddhartha Gautama tentang Satyam Eva Jayate yang meyakini kebenaran pasti menang atas penindasan.

"Ini saya dapat di dalam perjalanan yang namanya seorang Siddhartha Gautama yang terkenal. Bahwa apa pun juga, biar ditindas, biar mau dihilangkan melalui orang-orang atau melalui juga politik dan lain sebagainya, tetap saya yakin kebenaran pada akhirnya akan menang. Siddhartha Gautama menyebutnya adil adalah Satyam Eva Jayate," tutur Megawati.

Usai peresmian dan pidato, Megawati menaburkan serta menaruh karangan bunga di depan Monumen Kudatuli sebagai bentuk penghormatan kepada para korban Peristiwa 27 Juli 1996. Prosesi tabur bunga berlangsung khidmat dengan didampingi Prananda Prabowo bersama sang istri Nancy Prananda, serta kedua putra-putrinya Muhammad Prabhaswara Pranakarno dan Diah Safira Octaliakasih. 

Turut hadir Meutia Hatta dan Halida Hatta yang merupakan putri Wakil Presiden [ertama RI Mohammad Hatta, pematung Dolorosa Sinaga, serta Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto. Rangkaian acara diakhiri dengan pose salam perjuangan 'Merdeka' dan foto bersama di depan monumen.

(Fachri Audhia Hafiez)