Ribuan warga pendukung Ayatollah Ali Khamenei berkumpul di kota Qom, Iran. (Anadolu Agency)
Pengamat: AS Terlalu Percaya Diri, Iran Tak Akan Tumbang Seperti Irak atau Libya
Willy Haryono • 2 March 2026 12:44
Jakarta: Pengamat Timur Tengah, Tia Mariatul Kibtiah, menilai Amerika Serikat (AS) terlalu percaya diri dalam memprediksi keruntuhan rezim Iran pascawafatnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Menurutnya, Washington keliru jika menganggap Iran akan jatuh dengan mudah dan dapat diatur ulang menyerupai skenario di Irak, Venezuela, atau Libya.
Tia menjelaskan bahwa Iran memiliki fondasi politik yang sangat kuat dan spesifik yang disebut sistem Vilayat al-Faqih. Sistem ini membedakan Iran dengan negara-negara lain yang pimpinannya pernah ditumbangkan oleh intervensi AS.
Meski Iran mengadopsi elemen demokrasi seperti adanya lembaga eksekutif, yudikatif, dan parlemen, otoritas pengambilan keputusan tertinggi tetap berada sepenuhnya di tangan ulama atau Mullah.
Berbeda dengan tumbangnya Saddam Hussein di Irak atau Muammar Gaddafi di Libya yang memicu kekosongan kekuasaan, sistem di Iran dirancang untuk segera melakukan konsolidasi. Tia menyebutkan bahwa 88 anggota Majelis Ahli akan langsung bergerak menentukan pengganti tanpa adanya perebutan kekuasaan yang kacau di internal militer maupun sipil.
"Ini yang mengagetkan Amerika. Kok tidak bisa tumbang ya? Karena memang sistemnya beda," ujar Tia Mariatul Kibtiah dalam Program Breaking News Metro TV, Senin, 2 Maret 2026.
Ia menegaskan bahwa kekuatan Vilayat al-Faqih membuat Iran tidak mudah didesain oleh pihak asing untuk tunduk pada kepentingan nasional Amerika Serikat.
Mengenai sosok pengganti, Tia menganalisis bahwa meskipun kelompok konservatif memiliki pengaruh, kondisi ekonomi Iran yang telah tertekan sanksi AS selama puluhan tahun membuat rakyat menginginkan perubahan. Hal ini membuka peluang bagi terpilihnya figur yang lebih moderat untuk memimpin.
Ia menyoroti sosok Ali Reza sebagai kandidat kuat yang memiliki peluang besar karena dinilai lebih moderat dibandingkan figur lainnya. Ali Reza dipandang mampu membawa agenda pemulihan ekonomi yang signifikan bagi masyarakat Iran.
Di sisi lain, putra Ali Khamenei, meski dekat dengan militer (IRGC), dianggap kurang memiliki pengalaman dalam birokrasi pemerintahan.
Tia menyimpulkan bahwa solidaritas rakyat Iran saat ini justru akan semakin menguat pasca-terbunuhnya pimpinan mereka. Alih-alih terjadi revolusi baru pro-Barat, masyarakat Iran diprediksi akan fokus membangun kembali negaranya secara mandiri untuk menghindari intervensi lebih jauh dari Amerika Serikat. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Kepemimpinan Baru Iran Diyakini Akan Prioritaskan Stabilitas Nasional