Fenomena Api Misterius di Sleman, Tim UGM Temukan Kadar Gas Hidrogen

Dampak kemunculan api pada rumah warga di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman

Fenomena Api Misterius di Sleman, Tim UGM Temukan Kadar Gas Hidrogen

Ahmad Mustaqim • 4 June 2026 20:46

Sleman: Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik (FT) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta mendeteksi keberadaan gas hidrogen dalam kadar tinggi di sejumlah titik lokasi kemunculan api di wilayah Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman. Penelitian yang dilakukan di lapangan menunjukkan berbagai temuan, termasuk penyebab kemunculan sumber api.

Koordinator Tim PKPE FT UGM, Alva Edy Tontowi, menjelaskan timnya telah melakukan serangkaian proses, mulai tahap observasi hingga pengukuran langsung di lapangan. Hasil observasi yang dilakukan Sabtu, 30 Mei 2026, menunjukkan adanya anomali panas di area rumah, kendati tidak signifikan.

"(Anomali suhu) hanya sekitar sampai 29 derajat Celsius. Artinya suhu di area rumah dan sekitarnya masih berada pada rentang suhu ambien dan tidak dijumpai anomali tinggi," kata Alva, Kamis, 4 Juni 2026.

Selain hasil observasi, tim tersebut juga melakukan pengukuran kandungan gas di area kemunculan api pada Senin, 1 Juni 2026. Hasilnya, ditemukan anomali gas hidrogen yang cukup tinggi.

Misalnya, di area kamar mandi yang sebelumnya sempat menjadi lokasi munculnya api, alat ukur tim mencatat kandungan gas hidrogen mencapai angka 0,11. Bahkan saat proses pengukuran berlangsung, api kembali muncul di salah satu ruangan rumah. Pada tahap pengukuran kedua, didapati kadar gas hidrogen meningkat tajam hingga mencapai angka 0,40. Lokasi sampel yang diambil berada di dekat titik api.

 


"Pada waktu yang sama terjadi kemunculan api di salah satu kamar. Tim mengukur kandungan gas di dekat titik api dan hasilnya terbaca adanya gas hidrogen yang sangat tinggi, sampai 0,40," ujarnya.

Tim UGM kembali melakukan penelitian lanjutan pada Rabu, 3 Juni 2026. Hasil penerjunan ketiga tidak ditemukan keberadaan gas mudah terbakar lain selain hidrogen. Sebagai hasil sementara, Alva menjelaskan fenomena api di kawasan Kecamatan Seyegan memiliki keterkaitan kuat dengan gas hidrogen yang terakumulasi di dalam rumah. Ia memperkirakan dua kemungkinan, yakni limbah cair organik dan gas yang berasal dari dalam tanah.

Alva menduga gas hidrogen tersebut disebabkan oleh limbah organik rumah pemotongan ayam yang berada di sekitar lokasi. Namun, sampel limbah tersebut masih dianalisis lanjut oleh tim.

"Gas hidrogen diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam," katanya.


Fenomena kemunculan api di salah satu rumah di Kabupaten Sleman. Dokumentasi UGM

Sementara itu, ia melanjutkan timnya masih meneliti kemungkinan keterlibatan gas fosfin (PH3), yakni gas yang dikenal sangat mudah terbakar pada suhu kamar. Gas fosfin tersebut diduga terbentuk dari material kaya fosfat, seperti tulang ayam maupun bagian keras bulu ayam yang mengalami proses pembusukan atau fermentasi. Gas fosfin inilah yang diperkirakan memicu terbakarnya gas hidrogen saat keluar.

Sambil menanti hasil penelitian, tim UGM merekomendasikan sejumlah hal. Salah satunya, pemilik rumah membuka ventilasi dan sirkulasi udara selebar mungkin agar gas tidak terakumulasi di dalam ruangan. Selain itu, tim juga merekomendasikan pemakaian kipas angin atau blower.

"Pasang blower dan atau kipas angin untuk menghalau kemungkinan rembesan gas berkumpul dalam kadar yang cukup untuk memantik api," ucap Alva.

Kemudian, pemilik rumah disarankan memindahkan barang-barang ke titik yang lebih aman untuk mencegah kebakaran. Ia menegaskan timnya masih memastikan sumber gas, termasuk melakukan penggalian tanah secara dangkal di sejumlah titik.

(Whisnu M)