Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Foto: IRNA
Menlu Iran Sebut Tidak Ada Kemajuan dalam Pembicaraan dengan AS
Fajar Nugraha • 4 June 2026 06:17
Teheran: Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan bahwa "tidak ada kemajuan nyata" yang telah dicapai dalam negosiasi untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.
Ini disebabkan karena serangan baru Amerika Serikat dan Iran telah memperburuk gencatan senjata yang rapuh.
Para pejabat Kuwait mengatakan permusuhan yang kembali terjadi termasuk serangan pesawat tak berawak Iran di terminal penumpang di bandara internasional Kuwait yang menewaskan satu orang dan melukai 63 orang.
Berbeda dengan pernyataan Iran yang pesimistis, Presiden AS Donald Trump menyampaikan nada optimis, mengatakan kepada wartawan di Gedung Putih bahwa pembicaraan Iran dapat menghasilkan hasil "pada akhir pekan."
"Saya mendengar negosiasi itu sendiri sebenarnya berjalan sangat baik," kata Trump tentang potensi kesepakatan, seperti dikutip dari AFP, Kamis 4 Juni 2026.
"Itu bisa terjadi pada akhir pekan,” imbuh Trump.
Trump juga mengatakan, dia ingin memisahkan pembicaraan tentang konflik di Lebanon antara Israel dan Hizbullah yang didukung Iran dan pembicaraan tentang perang antara Amerika Serikat dan Iran, meskipun Teheran bersikeras keduanya terkait.
"Saya ingin memisahkannya, saya ingin memiliki hal yang terpisah, karena memang terpisah," katanya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan persediaan uranium yang sangat diperkaya Iran menjadi pusat diskusi dengan Teheran dan menyatakan harapan bahwa putaran pembicaraan terbaru di Washington antara Israel dan Lebanon akan menghasilkan peta jalan keamanan.
Washington bersikeras Teheran harus menyerahkan uranium yang diperkaya hingga mendekati tingkat senjata nuklir, setuju untuk membatasi aktivitas nuklirnya, dan membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran utama untuk minyak dan gas Teluk, agar perjanjian perdamaian dapat terwujud.
Menteri Araghchi mengatakan, jalur komunikasi dengan Amerika Serikat masih terbuka tetapi memperingatkan bahwa setiap serangan Israel terhadap ibu kota Lebanon, Beirut, sebagai bagian dari kampanyenya melawan Hizbullah akan memicu "kembalinya konflik secara penuh".
"Komunikasi dengan Amerika belum terputus, dan pesan telah dipertukarkan mengenai perlunya menghentikan agresi terhadap Beirut, tetapi belum ada kemajuan nyata yang dicapai dalam proses negosiasi," kata Araghchi kepada televisi Al Mayadeen Lebanon, seperti dikutip oleh kantor berita Tasnim.
"Serangan apa pun terhadap Beirut akan memiliki konsekuensi serius dan akan menyebabkan dimulainya kembali perang skala penuh," katanya. "Angkatan bersenjata kami siap menyerang Israel jika mereka menyerang Beirut."
Bermain dengan api
Militer Kuwait mengutuk serangan pesawat tak berawak di bandara sebagai tindakan "agresi kriminal Iran." Sementara Kementerian Luar Negeri India mengatakan satu korban tewas adalah warga negara India.Garda Revolusi Iran membantah menyerang bandara dan mengatakan itu adalah "kesalahan dalam sistem Patriot Amerika, yang mendarat di terminal setelah gagal mencegat rudal Iran." Garda Revolusi juga menuduh pasukan AS memprovokasi respons dengan menargetkan sebuah kapal tanker dan menara komunikasi di Pulau Qeshm negara itu.
Serangan-serangan baru ini merupakan salah satu ujian terberat dari gencatan senjata 8 April yang menghentikan perang selama lebih dari sebulan yang dipicu oleh pemboman Iran oleh AS dan Israel, dan sebagian besar telah bertahan meskipun terjadi baku tembak sporadis.
Trump meremehkan permusuhan yang kembali terjadi dengan mengatakan "di bagian dunia itu, gencatan senjata adalah ketika Anda menembak dengan cara yang lebih moderat."
Sementara itu, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Iran "bermain api."
"Iran pasti tahu apa yang dikatakan presiden (AS), bahwa jika perlu, akan ada kembalinya aksi militer skala penuh," kata Netanyahu dalam sebuah wawancara dengan saluran AS, CNBC.
Kuwait menangguhkan lalu lintas udara dan mengalihkan pesawat yang tiba ke tujuan lain setelah serangan drone di bandara, tetapi kemudian memulai kembali penerbangan Kuwait Airways.
Bandara internasional tersebut telah beberapa kali menjadi sasaran selama perang, dan baru sepenuhnya melanjutkan operasinya pada hari Senin.
Hassan Sheikh, seorang warga Pakistan berusia 40 tahun yang tinggal di Kuwait dekat bandara, mengatakan ia mendengar ledakan sepanjang malam, dan menambahkan: "Untuk pertama kalinya, anak-anak saya merasakan betapa seriusnya situasi ini."
Tak ada gencatan senjata sebagian
Eskalasi terjadi setelah pejabat AS, Israel, dan Lebanon bertemu di Washington untuk pembicaraan langsung tentang mengakhiri konflik paralel antara Israel dan Hizbullah.Kedutaan Besar Lebanon di Washington mengatakan proposal AS untuk menghentikan serangan pada awalnya hanya akan mencakup serangan Israel di Beirut dan serangan Hizbullah di wilayah Israel.
Kedua pihak belum secara terbuka menerima kesepakatan tersebut, dan pejabat senior Hizbullah Mahmud Qomati mengatakan kepada AFP bahwa kelompok tersebut "tidak akan menerima gencatan senjata sebagian."
Pasukan Israel melancarkan serangan darat terdalam mereka ke Lebanon dalam dua dekade terakhir.
Lebanon mengatakan serangan Israel pada hari Rabu menewaskan sedikitnya sembilan orang di selatan negara itu, termasuk dua paramedis, sementara serangan lain menghantam sebuah mobil di dekat Beirut.
Hizbullah mengklaim serangan roket pada hari Rabu yang menargetkan pasukan di Israel utara, dengan mengatakan bahwa serangan itu sebagai respons terhadap pelanggaran gencatan senjata Israel.
Gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran di Lebanon seharusnya mulai berlaku pada 17 April tetapi belum pernah terlaksana.