67 Karhutla Terjadi di Bangka Belitung hingga Mei 2026, Belitung Timur Terbanyak

Ilustrasi karhutla . (Dok BNPB)

67 Karhutla Terjadi di Bangka Belitung hingga Mei 2026, Belitung Timur Terbanyak

Lukman Diah Sari • 4 June 2026 10:46

Pangkalpinang: Badan Penanganan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung (Babel) selama Januari hingga Mei 2026 telah menangani 67 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kejadian karhutla itu disebabkan kesengajaan maupun kelalaian oknum membakar lahan.

"Pada tahun ini kejadian karhutla paling banyak terjadi di Belitung Timur," kata Kepala BPBD Kepulauan Babel Budi Utama di Pangkalpinang, Kamis, 4 Juni 2026, melansir Antara.

Ia mengatakan hingga Mei 2026 telah menangani 67 kejadian karhutla dengan luas lahan terdampak 184,74 hektare yang tersebar di Kabupaten Belitung Timur sebanyak 30 kejadian. Kemudian di Belitung 22 kejadian, Bangka Tengah delapan kejadian, Bangka tiga kejadian, Pangkalpinang tiga kejadian, dan Bangka Selatan satu kejadian karhutla.

"Alhamdulillah, penanganan karhutla ini dapat tertangani dengan baik dan ini berkat sinergi antar instansi pemerintah seperti kepolisian, TNI, dan pemerintah kabupaten dan kota, dalam memadamkan kebakaran ini," jelas dia.

Budi menyatakan karhutla disebabkan pembakaran disengaja oleh oknum masyarakat yang tidak bertanggung jawab, terutama di Belitung dan Belitung Timur.

"Kami berharap aparat penegak hukum untuk segera menindak pelaku pembakaran lahan ini, agar mereka jera dan menjadi contoh bagi warga lainnya untuk tidak membakar lahan selama musim kemarau ini," ujar dia.

Salah seorang petugas BPBD Provinsi Kepulauan Babel berjibaku memadamkan api di lahan kering (ANTARA/Aprionis)

Budi menambahkan karhutla terjadi juga karena adanya pembakaran sampah dan lahan pertanian. Selain itu akibat kelalaian dalam melaksanakan gotong royong membersihkan hutan kota yang tidak terkendali sehingga memicu munculnya api dan merambat ke hutan yang lebih luas.

"Penyebab karhutla ini banyak disebabkan oleh warga yang membakar sampah dan membersihkan lahan pertanian, yang kemudian api merambat ke kawasan hutan sekitarnya," jelas dia. 

(Lukman Diah Sari)