Mengapa Pura Besakih Disebut Pura Terbesar di Bali? Ini Penjelasannya

Pura Besakih. Dokumentasi/Wikipedia

Mengapa Pura Besakih Disebut Pura Terbesar di Bali? Ini Penjelasannya

Silvana Febiari • 11 February 2026 17:22

Bali: Bali dikenal sebagai Pulau Dewata yang kaya akan budaya dan tradisi Hindu. Salah satu ikon spiritual terbesar di Bali adalah Pura Besakih, yang sering disebut sebagai “Pura Induk” atau “Mother Temple” bagi umat Hindu di pulau ini.

Terletak di lereng sebelah barat daya Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali, Pura Besakih bukan hanya sekadar tempat ibadah. Pura ini merupakan simbol persatuan spiritual bagi umat Hindu di Indonesia.

Kompleks Pura Besakih

Melansir dari Wikipedia, Pura Penataran Agung merupakan pura terbesar di antara seluruh pura yang ada dalam kompleks Pura Besakih. Pura ini memiliki jumlah bangunan pelinggih terbanyak, menyelenggarakan berbagai jenis upacara, dan menjadi pusat dari seluruh pura di kompleks Besakih.

Di Pura Penataran Agung terdapat tiga pelinggih utama yang disebut Padma Tiga simbol stana dari Tri Purusha yaitu Siwa, Sada Siwa dan Parama Siwa. Tri Purusha adalah tiga tingkat kesadaran rohani.
   

Arsitektur

Pura Besakih merupakan kompleks yang terdiri dari 23 pura yang terletak di punggung bukit yang sejajar. Candi ini memiliki teras berundak dan anak tangga yang menanjak ke beberapa halaman dan gerbang bata yang mengarah ke puncak utama atau struktur Meru, yang disebut Pura Penataran Agung. Semua ini sejajar sepanjang satu sumbu dan dirancang untuk menuntun orang yang spiritual ke atas dan mendekati gunung yang dianggap suci.

Tempat suci utama kompleks ini adalah Pura Penataran Agung. Pusat simbolis tempat suci utama adalah singgasana teratai, atau padmasana, yang karenanya menjadi fokus ritual seluruh kompleks.



Tiga Padmasana (tempat sembahyang) di Pura Besakih. Dokumentasi/Wikipedia

Filosofi

Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih tidak sekadar menjadi tempat pemujaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Menurut kepercayaan Agama Hindu Dharma, pura ini yang terbesar di Pulau Bali memiliki keterkaitan erat dengan makna dan energi Gunung Agung.

Gunung Agung, sebagai gunung tertinggi di Bali, dipercaya menjadi pusat Pemerintahan Alam Arwah dan Alam Para Dewata, yang berperan sebagai utusan Tuhan bagi pulau Bali dan sekitarnya. Oleh karena itu, di lereng barat daya Gunung Agung dibangun Pura Besakih, sebuah pura yang sarat makna filosofis dan kesucian bagi umat manusia.

Objek Penelitian

Berdasarkan penelitian, bangunan fisik Pura Besakih berkembang dari kebudayaan pra-Hindu, dengan bukti peninggalan seperti menhir, punden berundak-undak, dan arca. Seiring waktu, bentuknya berkembang menjadi meru, pelinggih, gedong, maupun padmasana sebagai hasil kebudayaan Hindu.

Latar belakang keberadaan Pura Besakih di lereng Gunung Agung adalah sebagai tempat ibadah untuk menyembah Dewa, dengan gunung tersebut dianggap sebagai istana Dewa tertinggi. Pura ini menjadi pusat spiritual yang menghubungkan manusia dengan alam dan dunia dewa.

Dalam budaya masyarakat Hindu Bali, Pura Besakih mencerminkan perkembangan budaya sosial dari era pra-Hindu. Perubahan ini dipengaruhi oleh unsur-unsur budaya yang berkembang, sehingga memengaruhi wujud ide, aktivitas, dan material masyarakat Bali.

Perubahan tersebut terkait dengan ajaran Tattwa, tentang konsep ketuhanan; ajaran Tata-susila, yang mengatur perilaku umat Hindu; dan ajaran Upacara, yang mengatur aktivitas ritual persembahan. Ajaran tersebut menjadi satu kesatuan penting dalam praktik Agama Hindu Dharma di Bali.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Silvana Febiari)