BNPB Sebut Asap Tebal di Kalteng-Kalbar Akibat OMC Belum Maksimal

Ilustrasi kabut asap. Foto: Dok. Antara.

BNPB Sebut Asap Tebal di Kalteng-Kalbar Akibat OMC Belum Maksimal

Fachri Audhia Hafiez • 23 September 2026 21:04

Jakarta: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Barat (Kalbar) belum dapat berjalan secara maksimal. Hal tersebut memicu munculnya gumpalan asap karhutla yang cukup tebal hingga mengganggu aktivitas penerbangan komersial di kedua wilayah tersebut.

"Ini kelihatannya sudah sangat sedikit, tetapi karena OMC terutama di Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat ini tidak dapat dilaksanakan secara maksimal, sehingga mengakibatkan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini asapnya cukup tebal, Bapak Presiden," kata Kepala BNPB Suharyanto saat melaporkan perkembangan penanganan karhutla kepada Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas secara virtual, Rabu, 23 September 2026.
 


Suharyanto menjelaskan, pekatnya kabut asap tidak hanya menghambat penerbangan komersial, tetapi juga berdampak langsung pada kelancaran operasi udara pemadaman karhutla, termasuk penerbangan armada water bombing dan pesawat penyemai garam OMC.

BNPB memastikan roda perekonomian dan aktivitas harian warga setempat tetap berjalan kondusif. Fasilitas umum, area pertokoan, pusat kuliner, hingga arus lalu lintas darat dilaporkan tetap beroperasi normal.


Kepala BNPB Suharyanto saat menyampaikan laporan dalam rapat terbatas virtual bersama Presiden Prabowo Subianto, Rabu, 23 September 2026. Foto: BPMI Setpres.

"Tapi kami pastikan roda kehidupan masyarakat ini berjalan normal. Jadi lalu lintas, toko-toko, rumah makan dan lain sebagainya juga biasa, Bapak Presiden, tidak ada yang terganggu," kata Suharyanto.

Suharyanto menambahkan, dampak utama dari kabut asap pekat saat ini terfokus pada akses transportasi keluar-masuk wilayah, khususnya jalur udara di Kalteng dan Kalbar. Pemerintah bersama Satgas Karhutla terus memantau dinamika di lapangan guna mempercepat pemulihan kualitas udara.

"Hanya memang untuk keluar masuk khususnya di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat ini yang sedikit terganggu," kata Suharyanto.

(Fachri Audhia Hafiez)