Editorial Media Indonesia: Alarm Keras dari BMKG

Editorial Media Indonesia: Alarm Keras dari BMKG. Foto: Media Indonesia (MI)/Duta.

Editorial Media Indonesia: Alarm Keras dari BMKG

Media Indonesia • 24 September 2026 07:16

Dahsyat betul banjir bandang yang menerjang Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Senin malam, 21 September 2026. Hujan deras membawa lumpur, batu, dan material longsoran dari kawasan hulu, memorak-porandakan permukiman dan melumpuhkan aktivitas warga.

Dari dua orang yang dilaporkan hilang, satu ditemukan meninggal dunia. Alat-alat berat masih bekerja menyingkirkan material longsoran. Pemerintah Kabupaten Solok pun menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari mulai Selasa, 22 September 2026.

Bencana galodo itu mengejutkan karena datang ketika sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada musim kemarau. Di saat sejumlah daerah menghadapi kekeringan dan krisis air, Solok justru dihantam hujan lebat yang berujung bencana.
 


Namun, semestinya kita tidak sepenuhnya terkejut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sudah berulang kali mengingatkan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan sama sekali tidak turun.

BMKG menyebut puncak kemarau berlangsung pada Juli hingga September dan secara bertahap berakhir pada November. Pada saat bersamaan, wilayah sekitar khatulistiwa dan bagian utaranya masih berpotensi mengalami aktivitas hujan cukup tinggi.

Solok menjadi bukti betapa peringatan itu tidak boleh diremehkan. Itulah pelajaran terpenting dari bencana tersebut. Informasi BMKG jangan diperlakukan sekadar sebagai ramalan cuaca untuk menentukan apakah besok perlu membawa payung. Peringatan BMKG menyangkut keselamatan manusia. Karena itu, setiap informasi tentang potensi cuaca ekstrem harus diterjemahkan menjadi tindakan mitigasi.

Pemerintah daerah harus menjadi pihak pertama yang membaca, memahami, dan merespons peringatan tersebut. Daerah rawan longsor, banjir bandang, dan banjir lahar harus dipetakan. Saluran air diperiksa, jalur evakuasi dipastikan, aparat disiagakan, dan masyarakat di kawasan berisiko diperingatkan sedini mungkin. Maka, jangan sekali-kali meremehkan peringatan dini.


Penampakan kompleks perkantoran bupati Solok di Arosuka, Kabupaten Solok, Sumatra Barat pascabencana banjir bandang. ANTARA/HO-Diskominfo Solok

BMKG telah menyediakan informasi cuaca dari prakiraan mingguan, tiga harian, harian, hingga peringatan nowcasting untuk beberapa jam ke depan. Teknologi memungkinkan informasi itu sampai ke tangan pemerintah dan masyarakat nyaris tanpa jeda. Tidak ada alasan untuk membiarkannya berhenti sebagai notifikasi di layar telepon genggam.

Masyarakat pun mesti membiasakan diri mengakses kanal resmi BMKG, bukan mengandalkan firasat, kebiasaan, atau sekadar menengadah ke langit.

Memang tidak semua bencana dapat dicegah. Hujan juga tidak mungkin dilarang turun. Akan tetapi, risiko bencana dapat dikurangi dan jumlah korban bisa ditekan jika peringatan dini ditanggapi secara dini pula.

Solok telah membayar mahal pelajaran itu. Jangan sampai daerah lain harus membayar pelajaran yang sama dengan korban berikutnya. Sebab, peringatan dini kehilangan seluruh maknanya jika kita baru menganggapnya penting setelah bencana datang.

(Fachri Audhia Hafiez)