Xi Jinping dan Putin Sebut Aliansi Tiongkok–Rusia Faktor Penstabil Global

Presiden Tiongkok Xi Ji Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin. Foto: Xinhua

Xi Jinping dan Putin Sebut Aliansi Tiongkok–Rusia Faktor Penstabil Global

Muhammad Reyhansyah • 5 February 2026 10:13

Beijing: Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Presiden Rusia Vladimir Putin memuji penguatan hubungan bilateral kedua negara di tengah situasi global yang mereka gambarkan semakin bergejolak. Pernyataan tersebut disampaikan dalam percakapan video pada Rabu, 4 Februari 2026, menurut laporan media pemerintah kedua negara.

Beberapa jam setelah percakapan tersebut, media pemerintah Tiongkok melaporkan bahwa Xi juga melakukan pembicaraan via telepon dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, meski tidak memberikan rincian lebih lanjut. 

Tiongkok dan Rusia selama ini berupaya menampilkan sikap bersatu menghadapi Barat, dengan hubungan kedua negara kian erat sejak Moskow melancarkan operasi militernya di Ukraina pada 2022.

Percakapan antara Xi dan Putin, yang menurut seorang pejabat Kremlin berlangsung hampir satu setengah jam, dilakukan menjelang peringatan empat tahun dimulainya kampanye militer Rusia di Ukraina akhir bulan ini. Selama konflik tersebut, Moskow semakin bergantung pada Tiongkok untuk menopang perekonomian di tengah sanksi Barat yang luas.

“Sejak awal tahun ini, situasi internasional menjadi semakin bergejolak,” kata Xi kepada Putin, sebagaimana dikutip televisi pemerintah Tiongkok, CCTV. 

Ia menekankan bahwa kedua pihak perlu memastikan hubungan Tiongkok–Rusia terus berkembang secara stabil “melalui koordinasi strategis yang lebih mendalam serta komitmen yang lebih proaktif dan efektif sebagai kekuatan besar”.

Putin, yang menyapa Xi sebagai “sahabat terkasih”, menyampaikan pesan serupa. Ia menyatakan bahwa “aliansi kebijakan luar negeri antara Moskow dan Beijing tetap menjadi faktor penstabil yang penting”. 

“Kemitraan komprehensif dan kerja sama strategis Rusia–Tiongkok adalah contoh yang patut dicontoh,” ujar Putin dalam siaran video televisi pemerintah Rusia.

Kedua pemimpin tidak merinci bidang strategis apa saja yang akan menjadi fokus pendalaman kerja sama.


Pandangan Sejalan soal AS

Dilansir dari Channel News Asia, Kamis, 5 Februari 2026, Kremlin menyebut Putin telah menerima undangan untuk berkunjung ke Tiongkok pada paruh pertama 2026 serta menghadiri KTT APEC yang akan digelar di bawah kepemimpinan Xi pada November. 

Ajudan Kremlin Yuri Ushakov mengatakan percakapan tersebut berlangsung selama satu jam 25 menit dalam suasana “bersahabat dan penuh kepercayaan”.

Putin juga menyinggung hubungan perdagangan, dengan Rusia mengalihkan ekspor ke Asia setelah negara-negara Barat menjatuhkan sanksi besar-besaran terkait perang di Ukraina. Tiongkok sendiri tidak pernah mengecam perang Rusia maupun menyerukan penarikan pasukan, dan sejumlah sekutu Ukraina meyakini Beijing telah memberikan dukungan kepada Moskow.

Percakapan itu berlangsung di saat perunding Rusia, Ukraina, dan Amerika Serikat bertemu di Abu Dhabi untuk putaran baru pembicaraan guna mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir empat tahun. Putin tidak menyinggung Ukraina dalam bagian pembicaraan yang disiarkan Moskow, tetapi Kremlin kemudian menyatakan Xi menyampaikan dukungan terhadap perundingan tersebut.

Kremlin juga menyebut kedua pemimpin membahas pandangan mereka mengenai Amerika Serikat, yang menurut Moskow “hampir sepenuhnya sejalan”. Selain itu, Putin menyampaikan kepada Xi bahwa Rusia berniat bertindak “secara bertanggung jawab” setelah berakhirnya sebuah perjanjian nuklir utama dengan AS pada Kamis. 

“Perhatian khusus juga diberikan pada situasi tegang di Iran,” kata Ushakov.

Penekanan pada Peran PBB

Putin dan Xi terakhir kali bertemu langsung pada September, ketika pemimpin Rusia itu menghadiri parade militer besar di Beijing. Xi juga mengunjungi Moskow pada Mei tahun lalu dalam rangka peringatan kemenangan Rusia atas Nazi Jerman pada Perang Dunia II.

Percakapan dengan Putin ini menyusul serangkaian pertemuan Xi dengan para pemimpin dunia dalam beberapa bulan terakhir, saat ia berupaya mengonsolidasikan dukungan diplomatik di tengah kebijakan Amerika Serikat yang dinilai semakin sulit diprediksi.

Dalam pembicaraan tersebut, Xi kembali menegaskan komitmennya terhadap sistem internasional dengan Perserikatan Bangsa-Bangsa sebagai pusatnya. Ia berulang kali menekankan pentingnya PBB di mana Tiongkok memegang kursi tetap Dewan Keamanan dengan hak veto dalam pertemuan dengan pemimpin Prancis, Kanada, Inggris, dan Brasil.

Trump pada Januari meluncurkan rencana pembentukan “Board of Peace”, yang memicu kekhawatiran bahwa Washington ingin menyaingi peran PBB. Tiongkok, meski menolak apa yang disebutnya sebagai campur tangan dalam urusan internal, terus melibatkan diri dalam forum internasional dan berupaya memosisikan diri sebagai alternatif yang stabil dibandingkan Amerika Serikat.

Dalam beberapa pekan terakhir, para pemimpin dari Prancis, Kanada, dan Finlandia tercatat berkunjung ke Beijing, disusul Uruguay yang merupakan sekutu lama Tiongkok.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)