Presiden Prabowo Subianto. Foto: Tangkapan layar
Presiden Prabowo Berharap Skenario Terburuk di Timur Tengah Tak Terjadi
M Sholahadhin Azhar • 14 March 2026 00:00
Jakarta: Presiden Prabowo Subianto mengungkap harapannya, yakni skenario terburuk yang dibayangkan berbagai pihak di Timur Tengah tidak terjadi. Terutama setelah perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan zionis Israel telah berlangsung selama kurang lebih dua pekan.
Di hadapan para menteri dan pejabat negara pada Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat, 13 Maret 2026, Presiden menekankan pemerintah telah mengambil sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak perang di kawasan Asia Barat, sekaligus mengkaji beberapa opsi penghematan.
"Kita berharap skenario yang terburuk tidak terjadi di Timur Tengah, tetapi ramalan-ramalan juga banyak mengatakan ini bisa jadi perang yang sangat panjang, perang yang sangat panjang," kata Prabowo dikutip dari Antara, Jumat, 13 Maret 2026.
Presiden menyatakan Indonesia sejauh ini dalam kondisi yang relatif aman. Namun, Presiden mengingatkan jajarannya untuk tetap waspada dan tidak lengah. "Walaupun merasa aman, tidak panik, kita tidak boleh tidak mempersiapkan diri untuk kemungkinan paling jelek," ujar Presiden.
Dalam Sidang Kabinet Paripurna hari ini, dampak perang antara Iran versus zionis Israel dan Amerika Serikat turut menjadi sorotan. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dan Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan yang melaporkan langsung catatan masing-masing terkait isu tersebut dan dampaknya terhadap Indonesia.
Airlangga, saat memaparkan laporannya kepada Presiden, membuka kemungkinan defisit APBN dapat melampaui angka 3 persen manakala skenarionya perang berlangsung berlarut hingga lima bulan, enam bulan, dan 10 bulan.
Dalam skenario yang dibuat pemerintah, harga minyak mentah dunia diprediksi mencapai 90 dolar AS per barel jika perang berlangsung hingga lima bulan, kemudian 97 dolar AS per barel jika perang berlarut hingga enam bulan, dan 115 dolar AS per barel jika perang berlangsung selama 10 bulan.
"Kalau kita masukkan terhadap APBN kita Pak, yang sekarang, ini skenario pertama, ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di Rp17.000, Pak. APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita pertahankan Pak. Jadi, ini yang kita pertahankan growth di 5,3 (persen). (Imbal hasil, red.) Surat Berharga Negara (SBN) angkanya lebih tinggi Pak, 6,8 persen maka defisitnya adalah 3,18 persen," kata Airlangga.
Kemudian, Airlangga melanjutkan dalam skenario moderat, yang artinya harga minyak 97 dolar AS per barel, kurs rupiah terhadap dolar AS Rp17.300, asumsi pertumbuhan ekonomi 5,2 persen, dan imbal hasil SBN 7,2 persen, maka defisit APBN diprediksi mencapai 3,53 persen.
.jpeg)
Presiden Prabowo Subianto. Foto: Tangkapan layar
"Nah, kemudian kalau skenario terburuk, yang pesimis itu, dengan harga (minyak mentah) 115 (dolar AS per barel), kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2, surat berharganya 7,2, defisitnya 4,06 persen," ujar Airlangga.
"Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan, kecuali kita mau memotong belanja dan memotong pertumbuhan, Pak Presiden," sambung Airlangga saat memaparkan laporannya kepada Presiden Prabowo.