Jangan Senang Dulu! BB Turun Drastis saat Puasa Bisa Jadi Tanda Bahaya

Ilustrasi berat badan. Foto: Medcom.id/Medicalnewstoday.

Jangan Senang Dulu! BB Turun Drastis saat Puasa Bisa Jadi Tanda Bahaya

Fachri Audhia Hafiez • 26 February 2026 10:51

Jakarta: Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, mengungkapkan bahwa penurunan berat badan selama menjalankan ibadah puasa Ramadan merupakan hal yang wajar secara fisiologis. Namun, masyarakat perlu memperhatikan batasan penurunan yang sehat agar tidak berdampak buruk bagi kesehatan.

“Sebagai patokan sederhana yang mudah dipahami penurunan wajar adalah 0,5–1 kg per minggu, atau tidak lebih dari 4 kg total selama satu bulan Ramadhan,” kata Andi saat dihubungi ANTARA pada Kamis, 26 Februari 2026.
 


Andi menjelaskan bahwa penurunan berat badan terjadi karena tubuh mengalami perubahan metabolik yang signifikan. Setelah 12–14 jam tanpa asupan, tubuh akan menghabiskan cadangan glikogen dan mulai memecah lemak sebagai sumber energi. 

Meski normal, Andi memperingatkan jika penurunan terjadi secara drastis lebih dari dua kilogram dalam seminggu. Hal itu bisa menjadi sinyal bahaya.

Penurunan drastis tersebut sering kali bukan disebabkan oleh hilangnya lemak, melainkan tanda dehidrasi berat atau hilangnya massa otot (sarkopenia). Kondisi ini biasanya diikuti gejala pusing hebat, kulit tidak elastis, hingga kelelahan ekstrem yang tidak kunjung membaik setelah berbuka puasa.

“Penderita diabetes tipe 1 atau tipe 2 yang menggunakan insulin wajib memantau berat badan dan gula darah secara ketat. Remaja yang masih dalam fase pertumbuhan juga memerlukan perhatian khusus karena defisit nutrisi dapat mengganggu pertumbuhan tulang dan perkembangan kognitif,” jelas Andi.


Ilustrasi ramadan. Foto: Dok. Medcom.id.

Selain penderita diabetes dan remaja, Andi memberikan catatan khusus bagi lansia di atas 60 tahun karena risiko kehilangan otot yang sulit dipulihkan. Sementara, bagi individu dengan kondisi obesitas, penurunan berat badan cenderung akan lebih besar dibandingkan mereka dengan berat badan normal.

Andi menekankan bahwa gaya hidup saat berbuka puasa tetap menjadi faktor penentu utama hasil akhir timbangan di penghujung bulan suci. Bagi mereka yang aktif berolahraga, penurunan hingga 2 kg dalam sebulan masih dianggap sehat selama massa otot tetap terjaga.

“Perubahan ini tidak terjadi pada semua orang, gaya hidup Anda saat berbuka memegang peranan kunci,” kata Andi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fachri Audhia Hafiez)