Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) meninjau SPPG di Magetan. Foto: Istimewa.
Tinjau SPPG di Magetan, Ibas Dorong Penguatan Tata Kelola Program MBG
Arga Sumantri • 28 February 2026 14:51
Magetan: Wakil Ketua MPR Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengunjungi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Desa Suratmajan, Kecamatan Maospati, Kabupaten Magetan. Kunjungan ini bagian dari rangkaian agenda reses Ramadan 2026.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan optimal selama Ramadan. Sekaligus, terus mengalami penyempurnaan dalam pelaksanaannya di lapangan.
Ibas melihat langsung proses operasional dapur, mulai dari penerimaan bahan baku, pengolahan makanan, hingga distribusi kepada penerima manfaat. Ia menegaskan keberhasilan program MBG tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi dari kualitas tata kelola dan konsistensi standar pelayanan.
"Saya ingin memastikan operasional dan mekanisme kerja SPPG benar-benar berjalan sebagaimana mestinya. Semua harus bersih, higienis, dan mengikuti standar operasional yang telah ditetapkan," tegas Ibas dalam keterangannya, Sabtu, 28 Februari 2026.
Baca Juga :
Lansia dan Disabilitas Bakal Dapat MBG
Tahap awal pengolahan makanan, kata Ibas, menjadi titik krusial dalam menjaga kualitas layanan. Ibas mengingatkan agar bahan pangan yang tidak memenuhi standar kesegaran segera disortir dan tidak digunakan dalam proses produksi.
"Saya tidak ingin ada makanan yang tidak fresh atau berpotensi menimbulkan risiko kesehatan. Jika ditemukan bahan yang tidak layak, harus langsung dikembalikan. Ini menyangkut kesehatan anak-anak kita," ujar Ketua Fraksi Demokrat di DPR itu.

Ilustrasi MBG. Dok Antara
Selain aspek kebersihan, Ibas menyoroti pentingnya peran tenaga ahli gizi dalam memastikan setiap menu benar-benar memenuhi kebutuhan nutrisi penerima manfaat. Ia menegaskan MBG harus terus dijaga kualitas gizinya agar manfaat program dapat dirasakan secara nyata dalam jangka panjang.
"Program ini bukan sekadar membagikan makanan. Komposisi, porsi, keseimbangan nutrisi, hingga proses penyajiannya harus tepat agar anak-anak kita tumbuh sehat dan siap menjadi generasi unggul," kata Ibas.
Ibas turut berbincang dengan chef dapur SPPG, Randi, lulusan Michigan University, Amerika Serikat, jurusan Culinary, yang terlibat langsung dalam penyusunan menu makanan. Kehadiran tenaga profesional dengan pengalaman internasional tersebut dinilai memperkuat kualitas pengolahan makanan di dapur pelayanan gizi. Ia mengapresiasi penggunaan peralatan modern serta disiplin petugas dapur yang telah bekerja sesuai standar keamanan pangan. Namun demikian, Ibas menilai peningkatan kapasitas SDM dan konsistensi pelaksanaan standar perlu terus dikawal agar kualitas layanan tetap merata di seluruh daerah.
"Saya melihat praktik yang baik di sini. Ke depan, standar seperti ini perlu terus dijaga dan direplikasi agar kualitas pelayanan MBG sama baiknya di semua wilayah," ungkapnya.
Ibas juga memberi perhatian pada proses distribusi makanan. Menurutnya, rantai distribusi menjadi bagian penting yang menentukan mutu makanan saat diterima siswa penerima manfaat.
Distribusi yang tepat waktu dan terkoordinasi, katanya, perlu terus diperkuat agar kualitas makanan tetap terjaga hingga sampai kepada penerima. Evaluasi berkala terhadap mekanisme distribusi dinilai penting untuk memastikan efektivitas program semakin meningkat.
"Kata gratis dalam program Makan Bergizi Gratis bukan hanya soal akses, tetapi soal mutu layanan. Negara hadir bukan sekadar memberi, tetapi memastikan kualitasnya benar-benar baik," tegas Ibas.