Ilustrasi. Foto: dok Instagram Danantara.
Danantara Dorong WtE Jadi Solusi Nasional Pengelolaan Sampah
Ade Hapsari Lestarini • 22 January 2026 09:34
Jakarta: Program Waste-to-Energy (WtE) atau Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) menjadi salah satu agenda strategis yang mendapat perhatian serius dari Danantara Indonesia. Dalam implementasinya, Danantara menempatkan WtE tidak semata sebagai proyek teknologi, melainkan sebagai bagian dari kebijakan publik lintas sektor yang menuntut tata kelola kelembagaan yang kuat, mitigasi risiko yang terukur, serta pembagian peran yang jelas antar pemangku kepentingan.
Lead of Waste-to-Energy Danantara Investment Management Fadli Rahman mengungkapkan fokus Danantara Indonesia adalah memastikan tata kelola yang kuat sejak hulu, termasuk proses pemilihan Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP) PSEL yang transparan dan berbasis mitigasi risiko.
"Fokus ini menjadi penting untuk memastikan pengembangan WtE berjalan berkelanjutan, aman, dan dapat diterima publik sebagai bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah," ujar Fadli dalam diskusi kajian Tenggara Strategics bertajuk 'Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik' yang digelar di CSIS Auditorium Pakarti Centre Building, Jakarta, dikutip Kamis 22 Januari 2026.
Dalam diskusi ini, Fadli juga menegaskan keberhasilan WtE sangat ditentukan oleh kualitas tata kelola sejak tahap perencanaan awal, bukan hanya oleh pilihan teknologi yang digunakan. Selain aspek tata kelola, Danantara juga memberi perhatian khusus pada pemilihan teknologi WtE yang digunakan. Penekanan ini dilakukan untuk memastikan pengembangan WtE sejalan dengan standar perlindungan lingkungan dan kesehatan publik yang ketat.

Danantara dorong WtE jadi solusi nasional pengelolaan sampah. Foto: dok Danantara.
Menggunakan teknologi mutakhir
"Kami juga memastikan teknologi yang digunakan merupakan teknologi WtE termutakhir. Indonesia tidak lagi menggunakan teknologi insinerator lama, melainkan mechanical-grade incinerator yang dilengkapi sistem penyaringan berlapis untuk menangkap residu emisi, sehingga kualitas udara yang dilepas memenuhi standar kesehatan internasional, termasuk rujukan WHO," ujar dia.
Fadli menekankan aspek operasional menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tata kelola WtE. Pengelolaan sampah tidak berhenti pada proses pembakaran, melainkan mencakup seluruh rantai operasi yang harus dikendalikan secara ketat.
"Selain teknologi, aspek operasi menjadi perhatian penting. Mulai dari proses pengeringan sampah untuk mengurangi kadar air dan air lindi, hingga standar pengelolaan residu dan pengawasan operasional yang ketat. Seluruhnya kami dorong sebagai bagian dari tata kelola agar WtE dapat berjalan aman, berkelanjutan, dan menjadi bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah," jelas dia.
Melalui pendekatan tersebut, Danantara Indonesia menegaskan posisinya sebagai penggerak integrasi kebijakan dan penjaga kualitas tata kelola dalam pengembangan WtE, agar proyek ini tidak hanya menjawab krisis sampah perkotaan, tetapi juga memberikan manfaat jangka panjang yang aman dan berkelanjutan bagi masyarakat.
Selain Fadli, hadir juga dalam diskusi ini Senior Researcher Tenggara Strategics Intan Salsabila Firman dan Guru Besar IPB University Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, serta dimoderatori oleh Direktur Eksekutif Tenggara Strategics Riyadi Suparno.