Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. MI
Cegah Karhutla, Dedi Mulyadi Minta Pendakian Gunung di Jabar Ditutup Sementara
Media Indonesia • 1 September 2026 13:44
Bandung: Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi meminta pengelola kawasan pegunungan menutup sementara kegiatan pendakian selama musim kemarau. Kebijakan tersebut dinilai perlu untuk mengantisipasi potensi kebakaran lahan di kawasan pegunungan.
Dedi menyoroti aktivitas pendaki yang berpotensi memicu kebakaran, terutama penggunaan api selama berada di kawasan pegunungan. Ia juga mengingatkan risiko puntung rokok yang dibuang sembarangan.
"Pendakian gunung untuk sementara ditutup dulu karena khawatir para pendaki nanti menyalakan api," kata Dedi, seperti dilansir Antara, Selasa, 1 September 2026.
Permintaan penutupan sementara pendakian disampaikan di tengah meningkatnya kejadian kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah Jawa Barat selama musim kemarau.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat hingga 31 Agustus 2026, luas lahan dan hutan yang terbakar mencapai 228,07 hektare.
Kebakaran tersebut tercatat terjadi di 178 desa dan kelurahan yang tersebar di 107 kecamatan. Total kejadian kebakaran mencapai 156 kasus.
Sumedang Catat Kejadian Terbanyak
Dari sisi jumlah kejadian, Kabupaten Sumedang menjadi wilayah dengan kasus kebakaran terbanyak, yakni 21 kejadian. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Majalengka dengan 17 kejadian dan Kabupaten Bandung sebanyak 16 kejadian.
Sementara itu, jika dilihat berdasarkan luasan lahan yang terbakar, Kabupaten Sukabumi mencatat area terdampak paling luas dengan 49,20 hektare.

Pemadaman karhutla oleh tim gabungan di Samarinda, Kaltim. ANTARA/Ahmad Rifandi
Kabupaten Majalengka berada di posisi berikutnya dengan luas lahan terbakar mencapai 26,16 hektare, disusul Kabupaten Bandung dengan 24,80 hektare. Data tersebut menjadi gambaran sebaran kebakaran lahan dan hutan di Jawa Barat hingga akhir Agustus 2026.
Di tengah kondisi tersebut, Dedi meminta pengelola kawasan pegunungan mengambil langkah pencegahan dengan menghentikan sementara aktivitas pendakian selama musim kemarau untuk mengurangi potensi munculnya sumber api di kawasan pegunungan. (Sugeng)